Pada pertandingan tersebut Sharapova sesungguhnya memulai dengan bagus, terlepas dari pukulan-pukulan Serena yang kurang meyakinkan. Namun di gim ke-10 Serena mulai kembali ke ritmenya dan mematahkan servis Sharapova untuk merebut set pertama.
Momentum itu tidak disia-siakan petenis nomor satu dunia tersebut. Di set kedua Serena ngebut dengan mematahkan servis Sharapova dua kali untuk unggul 5-0. Sharapova akhirnya bisa mempertahankan servisnya sebelum Serena mengakhiri perlawanan dia dengan skor 6-1.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kekalahan itu adalah yang ke-18 kali beruntun diderita petenis cantik Rusia tersebut dari Serena. Sepanjang 21 kali pertemuan keduanya, Sharapova hanya kebagian menang dua kali, itu pun terjadi sangat lama sekali yaitu di tahun 2004, saat usianya masih 17 tahun.
Kalau melihat statistik tersebut, sesungguhnya Sharapova-Serena tidak layak disebut rival karena selisihnya terlalu telak. Namun, mengingat nama besar kedua petenis -- apa boleh buat.
Ketidakberdayaan Sharapova saat menghadapi Serena dipertegas dengan kekalahan straight set yang mencapai 16 kali. Hanya sekali dalam 13 pertemuan terakhir Sharapova bisa memberikan perlawanan kepada pemilik 21 titel Grand Slam itu.
Masalah Sharapova Saat Melawan Serena
Bisa dikatakan Serena adalah salah satu petenis dengan kemampuan paling lengkap. Tak cuma memiliki servis-servis mematikan, dia juga diberkati dengan pergerakan cepat nan lincah dan tenaga yang kuat.
Bagi Anda, penonton setia tenis, pastinya tidak jarang melihat Serena tidak segan maju ke depan net untuk menyambut drop shot lawan sembari melakukan gerakan split meskipun upaya dia itu tidak sering berhasil.
Sementara itu, Sharapova sebaliknya dikenal sebagai salah satu petenis yang tidak terlalu cepat dan tidak punya pukulan lengkap. Sharapova hampir selalu 'hanya' mengandalkan forehand-backhand yang keras, jarang bahkan mungkin tidak pernah melakukan drop shot, slice, atau pun overhead smash. Bahkan Sharapova mengakui dirinya butuh puluhan tahun untuk belajar melakukan drop shot.
"Serius, butuh 24 tahun," ucap Sharapova sembari tertawa ketika drop shot-nya membantu mengalahkan Victoria Azarenka di babak ketiga Indian Wells tahun lalu.
"Kupikir [mantan pelatih] Robert Lansdrop tidak terlalu tahu soal drop shot. Itu sesuatu yang Anda mesti gabungkan sedikit demi sedikit, tapi Anda harus percaya diri. Aku tidak pernah banyak melatih drop shot, slice. Itu adalah hal-hal kecil yang kupikir mesti kulatih lebih banyak lagi dalam permainanku."

Sharapova juga memiliki permainan yang relatif mudah dibaca lawan karena nyaris selalu bermain di area baseline sembari sebisa mungkin mengarahkan pukulan-pukulannya ke bidang yang sulit dijangkau lawannya. Sharapova juga jarang melakukan kombinasi seperti maju ke dekat net.
Masalah lain yang dihadapi Sharapova ialah gaya servis yang mirip dengan Venus Williams, kakak kandung Serena. Orang yang sudah dilawannya sejak kecil. Sharapova berpostur 1,88 meter sedangkan Venus 1,85 meter disebut punya sudut servis yang sama. Senjata yang mempan untuk petenis lain, tapi tidak untuk Serena.
"Maria sangat tinggi. Jadi sudutnya berbeda dari para petenis lain.Tapi itulah yang selama ini dilawan Serena karena Venus," ucap Rennae Stubbs, mantan ganda nomor satu dunia yang kini menjadi komentator.
Akankah Sharapova Bisa Mengalahkan Serena Lagi?
Sharapova punya peluang mengalahkan Serena lagi, namun dibarengi dengan sejumlah catatan. Dikutip dari Quora.com, Sharapova mesti bisa memaksimalkan servis kedua Serena, memaksa lawannya itu untuk bergerak sekeliling lapangan, melakukan variasi, dan punya mentalitas.
Pertama, Sharapova mesti bisa memaksimalkan servis kedua Serena. Beberapa petenis lain yang terakhir mengalahkan Serena, menyerang dia dengan pukulan pengembalian yang mengarah ke tengah lapangan sehingga dia tidak punya banyak waktu dan ruang untuk memukul balik bola.
Di sisi lain, Sharapova juga dilarang kehilangan servisnya sendiri dengan cara dan tidak melakukan double fault dan sebisa mungkin servis pertama masuk. Di pertandingan tadi, servis pertama Sharapova yang masuk hanya 55 % dan melakukan 7 double fault!
Kedua, Sharapova akan kalah apabila lawan bisa membuat dia bergerak ke sana-ke mari. Sharapova bukan petenis yang lincah dan tidak punya pukulan mematikan ketika berlari. Jadi , untuk mengalahkan Serena, dia mesti bisa medikte permainan dari garis belakang lapangan plus mengarahkan bola ke sudut-sudut sulit sehingga membuat Serena kewalahan untuk mengembalikan bola. Sehingga apabila bola pengembalian Serena pendek, Sharapova bisa mematikan dengan melepaskan pukulan sekeras-kerasnya.
Ketiga, variasi menjadi elemen penting untuk Sharapova. Pukulan-pukulan yang tidak terduga seperti drop shot dan voli bisa membantu. Final Australia Terbuka 2015 menjadi contohnya. Saat itu Sharapova memenangi setiap poin dari drop shot di pertandingan itu.
Keempat, Sharapova mesti bisa menjaga mentalnya tetap kuat saat melawan Serena. Tidak jarang Sharapova memperlihatkan mimik muka seakan-seakan akan mengatakan "Bagaimana ini bisa terjadi lagi?" ketika melakukan double fault atau sehabis Serena membuat pukulan winner.
Pada tahun ini Serena akan berusia 35 tahun. Dengan 21 titel Grand Slam, Serena tinggal butuh sekali trofi Grand Slam untuk menyamai rekor terbanyak milik Stefi Graff, dan dua lagi untuk menjadi petenis terhebat di era Open.
Sharapova, yang akan berusia 29 tahun pada April nanti, mestinya segera menyudahi rekor buruknya itu terhadap Serena. Apalagi, bisa saja Serena akan memutuskan gantung raket dalam waktu dekat. Kalaupun tidak, Sharapova tentunya tidak ingin dicap 'hanya bisa mengalahkan Serena saat sudah menurun'.
Selamat mencoba, Maria!

(rin/a2s)











































