SABR, singkatan dari Sneak Attack By Roger, populer di AS Terbuka tahun 2015 lalu ketika petenis Swiss berumur 34 tahun itu menambahkannya ke amunisi persenjataan yang ia miliki.
Sejatinya SABR itu bermaterikan gaya chip and charge, yang dulu lazim diadopsi petenis bergaya serve and volley, ketika menghadapi servis lawan. Yang menarik, gaya klasik itu membuat Federer tampil kian agresif.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pun demikian, di Melbourne Park sejauh ini belum ada SABR-SABR lain dari Federer, termasuk ketika ia menyisihkan Tomas Berdych di perempatfinal, Rabu (26/1/2016) kemarin.
Hal itu tidak lepas dari pengamatan Jim Courier, petenis legendaris yang mewawancarai si pengoleksi 17 gelar grand slam di atas lapangan.

[Getty Images/Michael Dodge]
"Kalian mau melihatnya?" ucap Federer ke publik Rod Laver Arena, yang kemudian menyambut dengan respons positif.
"Sudah pasti saya akan memperlihatkan setidaknya satu di pertandingan berikutnya. Saya senang memainkannya. Untuk itu Anda harus punya kerangka berpikit tepat. Harus pede. Bukannya saya tak pede tapi, entahlah, saya belum merasa pas saja. Mungkin saya akan melakukannya di lapangan latihan dulu," tuturnya.
Pada pertandingan berikutnya Federer, sebagai unggulan tiga, akan menghadapi Djokovic yang merupakan juara bertahan sekaligus unggulan teratas dalam partai semifinal, Kamis (28/1) besok. Ini merupakan partai yang juga hadir di final AS Terbuka dan Wimbledon tahun lalu.

[Getty Images/Clive Brunskill]
Sejauh ini keduanya sudah berhadapan 44 kali, dengan hasil sama rata: Federer dan Djokovic sama-sama punya 22 kemenangan. Partai nanti juga akan menjadi duel ke-15 antara mereka di sebuah ajang grand slam, duel paling sering di tenis putra era Open; Djokovic dan Rafael Nadal berjumpa 13 kali, Federer dan Nadal 11 kali, dan John McEnroe dan Ivan Lendl 10 kali.
Pada usia yang sudah menginjak angka 34, sebaya dengan Lleyton Hewitt yang gantung raket di Melbourne Park tahun ini, Federer tahu persis peluangnya menambah koleksi gelar tak lagi banyak. SABR pun boleh jadi akan ia dayagunakan dalam usaha berjaya ketika menghadapi Djokovic. Seandainya Djokovic, yang sedang dominan-dominannya di dunia tenis, bisa diatasi maka peluang juara niscaya amatlah besar buat Federer.
"Itu merupakan salah satu alasan saya masih terus bermain. Saya merasa masih kompetitif di atas. Saya merasa masih mampu mengalahkan para petenis lain," tegas Federer yang belum bisa menambah titel grand slam sejak Wimbledon 2012 dan sejak itu sudah tiga kali kalah dari Djokovic di tiga final ajang tersebut.
(krs/mfi)











































