Djokovic tak pernah tergeser dari peringkat satu dunia putra sejak 7 Juli 2014. Artinya, dia sudah menduduki singgasana itu selama 82 pekan.
Petenis 28 tahun itu dipastikan bakal lebih lama lagi menjadi petenis nomor satu dunia usai menjadi juara Australia Terbuka Minggu (31/1/2016). Dia mengalahkan petenis Inggris Raya, Andy Murray di babak final lewta pertandingan tiga set, 6-1, 7-5, 7-6(3) selama 2 jam dan 52 menit.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Satu pertandingan yang amat sulit dimenangkan Nole--sapaan karib Djokovic--justru terjadi di babak keempat. Di babak itu dia dipaksa tampil lima set oleh petenis nonunggulan, Gilles Simon.
Roger Federer dan Khei Nishikori, dua petenis yang jadi lawannya dan menjadi unggulan, dikalahkan dengan mudah. Djokovic mengakui kalau dia sudah naik level sebagai petenis.
"Sudah bertahun-tahun saya memegang komitmen, kerja keras, dan dedikasi, bukan hanya berlatih keras, sebagai seorang petenis, tapi juga soal gaya hidup. Saya dituntut untuk mencurahkan sebagian besar waktu, energi, berpikir untuk menjadi orang yang terbaik dan petenis yang terbaik," kata Djokovic seperti dikutip situs resmi turnamen.
"Faktanya, saya harus mampu menunjukkan diri sebagai petenis yang berbeda. Saya berada di sini kali ini tidak untuk mempertontonkan kalau saya pemain yang sama seperti tahun lalu. Permainan saya memang sudah semestinya lebih sip. Saya terus membuat diri saya meningkat bukan hanya taktik, tapi juga teknik dan mental.
"Saya pernah mendengar sebuah metafora kalau serigala yang yang berlari ke puncak itu lebih lapar ketimbang serigala yang sudah berada di puncak. Saya percaya semua petenis yang tengah bertarung untuk menjadi nomor satu setiap pekannya amatlah lapar untuk bisa menjadi nomor satu dunia. Saya tahu itu. Makanya saya harus berlatih lebih keras dua kali lipat ketika ada di puncak. Saya tidak akan membiarkan diri saya rileks dan senang-senang," ucap dia.Â
(fem/raw)











































