Walaupun mulai bermunculan pemain-pemain muda dalam beberapa waktu terakhir ini, tapi andalan utama Indonesia untuk meraih tinggi prestisius masih yang itu-itu saja.
Di ganda putra, Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan, masih menjadi tumpuan terbesar. Pun demikian di ganda campuran, sosok Tontowi Ahsan/Liliyana Natsir, belum tergantikan.
Kedua pasangan itu telah disebut Pelatnas Cipayung sebagai andalan untuk merebut dua gelar juara di ajang All England Superseries 2016, yang akan dimulai hari ini, Selasa (8/3), sampai Minggu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Susy, Hendra/Ahsan dan Owi/Butet memang masih yang paling memenuhi syarat untuk memilkul target-target membawakan titel juara buat Indonesia saat ini.
"Realistisnya memang seperti itu, kans kita ada di ganda putra, ganda campuran, dan ganda putri. Tanpa mengecilkan tunggal putra dan putri yang memang masih belum matang, karena setelah Hayom Rumbaka dan Simon Santoso keluar, kita hanya ada Tommy Sugiarto sebagai pemain senior. Di All England tahun ini harapan kita di tunggal putra ada di pemain-pemain muda," papar Susy.
Ke Birmingham, Inggris, PBSI mengirimkan empat pemain tunggal putra, dua tunggal putri, empat ganda putra, tiga ganda putri, dan empat ganda campuran.
Di mata Susy, fokus pemain muda dan pemain senior di All England tahun ini dibagi dua. Pemain-pemain senior, selain memburu gelar juga masih mengejar poin menuju Olimpiade 2016 dan untuk mengunci posisi unggulan.
"Tetapi untuk pemain junior, tentu ajang ini untuk mengejar poin Olimpiade karena tentu kita ingin sebanyak-banyaknya meloloskan atlet ke Brasil nanti," papar Susy, si peraih medali emas pertama Indonesia pada Olimpiade 1996.
Susy sendiri tidak berharap muluk kepada pemain muda. Menurutnya, masuk delapan besar atau semifinal sudah merupakan prestasi yang luar biasa. Sementara jika ingin juara, pemain muda Indonesia masih perlu kerja keras dan waktu.
"Semua pemain elite dunia kumpul di sana, terlebih ada Olimpiade. Tentu secara poin besar, itu alasan pertama. Alasan kedua adalah gengsi. Ibaratnya, kalau belum juara tidak afdol, karena All England ini dibilang open turnamen tetapi secara sejarah sangat tua.
"Itu yang membuat kesannya agung. βJadi memang menjadi satu yang diharapkan oleh atlet bulutangkis dunia, termasuk atlet kita," simpul Susy.
(mcy/a2s)











































