Indonesia mengirim empat pasangan ganda putra ke All England 2016. Mereka adalah Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan, Angga Pratama/Ricky Karanda Suwardi, Berry Angriawan/Rian Agung Saputro, dan Marcus Fernaldi Gideon/Kevin Sanjaya Sukamuljo.
Berry/Rian dan Gideon/Kevin langsung terhenti di babak pertama. Sementara Angga/Ricky dan Ahsan/Hendra cuma sampai babak kedua. Indonesia pun tak punya wakil di babak perempatfinal di nomor ganda putra.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
βKalau dari segi teknik permainan mereka masih benar mainnya, polanya, semua benar. Cuma kekurangannya dari segi otot tangannya. Karena memang kelihatan kita kalah kekuatan tangannya dibanding musuh," ujar Herry kepada badmintonindonesia.org.
"Bukan fisik, bukan napas, tapi tenaga tangannya yang agak turun. Karena, memang bukan alasan, bolanya agak berat di sini. Jadi butuh tenaga ekstra besar untuk mematikan lawan."
"Pada ganda putra level dunia, untuk mendapatkan poin memang harus membunuh lawan. Salah satunya kan dengan smash yang keras, nah ini tenaganya kita yang kurang. Sehingga susah tembus. Ini kekurangan yang saya lihat. Khususnya Hendra/Ahsan,β imbuhnya.
Target juara yang dibebankan kepada Ahsan/Hendra pun meleset. Meski demikian, Herry tetap melihat sisi positif dari kegagalan tersebut.
"Hasil ini memang bisa dibilang gagal tak sesuai target. Tapi dari kegagalan ini banyak menjadi evaluasi, apa yang harus diperbaiki dan apa yang masih kurang. Saya melihat ini sebagai hal positif. Hendra/Ahsan kalah berarti mereka masih punya kekurangan. Ini yang harus diperhatikan menuju persiapan ke Olimpiade," kata Herry.
(nds/roz)











































