detikSport
Follow detikSport Linkedin share
Jumat, 22 Apr 2016 16:46 WIB

Kurangi Tekanan Publik, Pengurus Sembunyikan Target untuk Intanon

Femi Diah - detikSport
Christopher Lee/Getty Images
Jakarta -

Ratchanok Intanon memang digadang-gadang mencetak sejarah sebagai pebulutangkis nomor satu dunia sejak lama. Tapi, barisan pelatih Thailand menyembunyikan target itu dari publik.

Intanon resmi menjadi pebulutangkis putri nomor satu dunia kemarin (21/4/2016). Posisi itu didapatkan pemain 21 tahun tersebut dengan menggeser pebulutangkis Spanyol, Carolina Marin.

Menilik laju Intanon sejak masih menjadi pebulutangkis junior, torehan apik itu bukanlah sesuatu yang mengejutkan. Boleh dibilang sudah saatnya dia menjadi yang terbaik dalam persaingan dunia. Simak saja, Intanon mencatatkan diri sebagai pemilik gelar juara dunia junior tiga tahun beruntun, dari 2009 sampai 2011.

Gelar juara di tahun 2009 tersebut mengantarkan Intanon sebagai peraih gelar juara termuda. Kala itu, dia masih berusia 14 tahun. Dia sekaligus menjadi pebulutangkis pertama yang berhasil meraih tiga kali juara dunia junior beruntun.

Berkat sukses di tahun 2009 itu pula, Intanon didapuk sebagai pemain paling menjanjikan versi BWF (Federasi Bulutangkis Dunia) di tahun 2010. Malah di tahun sebelumnya, 2009, Intanon mendapatkan predikat IOC Sport-Inspiring Young People Trophy oleh Komite Olimpiade Internasional (IOC).

Intanon melanjutkan sukses itu pada persaingan kelompok dewasa. Cuma butuh dua tahun sejak menjadi juara dunia junior di tahun 2011, Intanon menjadi juara dunia. Pada final Kejuaraan Dunia 2013, Intanon mengalahkan pemain China, Li Xuerui.

Dari ajang tersebut, Intanon juga tercatat sebagai juara termuda dari nomor tunggal di Kejuaraan Dunia. Saat merengkuh juara, Intanon berusia 18 tahun dan enam bulan serta enam hari.

Sebelum tampil di Kejuaraan Dunia, Intanon juga membukukan rekor sebagai finalis termuda nomor tunggal All England di tahun 2013. Waktu itu dia berumur 18 tahun.

Kini, status nomor satu dunia juga tak lepas dari rekor baru. Intanon menjadi pemain tunggal pertama yang menjadi juara tiga super series beruntun dalam tiga pekan berturut-turut. Dia sekaligus menjadi pemain Thailand pertama yang menduduki peringkat satu dunia.

 


Rupanya, hasil itu bukan kebetulan semata. Barisan pelatih sudah menyusun skenario sejak lama untuk menjadikan Intanon sebagai ratu dunia.

"Kami tidak pernah mempublikasikan untuk menargetkan dia menjadi nomor satu dunia. Itu untuk mengurangi tekanan publik kepada dia," kata Khun Kamala Thongkorn, presiden Banthongyord Badminton School, akademi bulutangkis tempat Intanon berlatih bulutangkis sejak kecil, dikutip Bangkok Post.

"Sejatinya, dia berpeluang untuk menjadi nomor satu dunia sejak itu (Kejuaraan Dunia 2013), tapi performa dia terganggu cedera," imbuh Kamala.

Terdekat Intanon akan diuji dalam Kejuaraan Asia Bulutangkis di Wuhan, China, pekan depan. Intanon wajib menjadi juara jika ingin bertahan sebagai pemain nomor satu dunia.
 

(fem/krs)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detiksport.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com