CdM Tim Thomas Indonesia Bicara Soal Mental Para Pemain

Mercy Raya - Sport
Senin, 23 Mei 2016 21:18 WIB
Foto: dok. Humas PBSI
Jakarta - Indonesia pulang dari Piala Thomas 2016 dengan menjadi runner-up. Chief de Mission untuk Indonesia, Achmad Budiarto, mengatakan mental sempat jadi salah satu kendala di turnamen tersebut.

Di partai final hari Minggu (22/5) kemarin, Tim Thomas Indonesia sejatinya sudah bisa mengimbangi poin Denmark, 2-2. Namun, tunggal ketiga Indonesia, Ihsan Maulana Mustofa, kalah 15-21 dan 7-21 dari Hans-Kristian Vittinghus dalam tempo 40 menit.

"Kalau saya bilang, mental anak-anak memang belum maksimal. Saat final itu atmosfernya berbeda sekali dengan pada saat semifinal," kata Budiarto menyoal kendala yang dihadapi timnya.

"Tim Indonesia ini 'kan pada saat babak penyisihan itu kerap diremehkan. Tapi, cukup buat kejutan juga bagi lawan, ketika kita bisa sikat lawan 5-0, 5-0, lalu 4-1. Mereka anggap remeh kita karena pemain mudanya, apalagi saat menghadapi Hong Kong waktu itu," ujar dia lagi.

Sebagai pemimpin kontingen, Budiarto dan Rexy Mainaky (Manajer tim Thomas Uber) memang dituntut untuk kerja ekstra guna melecut mental timnya agar lebih percaya diri di partai final.

"Tugas saya itu mengeliminasi semua faktor nonteknis. Mulai dari makan, istirahat, kemudian komunikasi tim. Saya (sangat) membebaskan anak-anak, tapi tertib. Anak-anak ini sudah punya modal dan kemampuan. Tinggal saya membangkitkan rasa nasionalis mereka. Jadi, setiap kali briefing dengan mereka, saya bilang mereka ini pejuang, dan harus percaya diri bahwa kita ini sudah juara," ungkapnya.

Ternyata hal itu cukup berhasil mengubah pikiran Jonatan Christie dan pemain lainnya. Sebagai contoh adalah Hendra Setiawan/ Mohammad Ahsan yang kalah di babak perempatfinal ketika melawan ganda Hong Kong, Or Chin Chung/Tang Chung Man.

"Hendra/Ahsan hanya disuntik sedikit oleh Rexy, bahwa mereka ini juara dunia lho. Masalah mereka sudah tua, ya, itu alami. Tapi 'kan semakin tua artinya mereka lebih banyak pengalaman, gunakan pengalaman itu. 'Kalian sudah tahu cara mengatasi mereka.' Akhirnya mereka bisa menang lawan Korea Selatan," katanya.

Kendati begitu, Budiarto meyakini apa yang ditorehkan timnya di Piala Thomas tahun ini bisa membawa dampak yang lebih untuk ke depannya. Termasuk merebut Piala Thomas pada dua tahun mendatang.

"Saya yakin di tahun 2018 kita bisa rebut Piala Thomas. Tapi, kita tidak perlu rendah diri meski tak berhasil bawa gelar juara, karena dilihat dari dua turnamen (Hyderabad, India, dan Kunshan, China) Indonesia tetap menjadi yang terbaik di Asia. Insya Allah dengan tim muda ini kita akan merebut Piala Thomas yang akan datang," harapnya.

(mcy/roz)