Intanon akan jadi salah satu harapan Thailand untuk mendulang medali di Olimpiade. Pebulutangkis 21 tahun itu sudah membuktikan diri jadi salah satu ancaman besar bagi dominasi China di cabang bulutangkis di Olimpiade.
Menghadapi Olimpiade tahun ini, Intanon terpacu oleh memori empat tahun lalu di London. Kala itu, Intanon yang masih berusia 17 tahun nyaris menumbangkan unggulan kedua asal China, Wang Xin, di babak perempatfinal. Namun, meski sempat merebut gim pertama lebih dulu, Intanon akhirnya harus kalah 21-17, 18-21, 14-21.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saat itu, saya tidak merasa baik-baik saja setelah kalah. Saya merasa seperti tidak ingin berlatih lagi. Saya merasa saya tidak ingin bermain bulutangkis lagi."
"Tapi saya dapat dukungan. Keluarga saya, yang mencintai saya, bilang tidak apa-apa, kamu masih punya waktu. Belajar lebih banyak lagi," imbuhnya.
Bulan April lalu, Intanon sempat menempati peringkat satu dunia setelah memenangi tiga turnamen super series secara beruntun: India, Malaysia, dan Singapura. Dia pun tercatat sebagai pebulutangkis Thailand pertama yang menempati peringkat satu dunia.
Kendati kini sudah kembali digeser oleh Carolina Marin, masa singkat Intanon di puncak dunia menjadi sensasi di Thailand. Intanon pun siap memikul harapan besar publik Thailand di Olimpiade di Rio de Janeiro mendatang.
"Saya harap saya bisa mendapat medali emas untuk Thailand. Itu tidak terlalu sulit untuk saya dan saya percaya saya bisa melakukannya," ucapnya.
(nds/roz)











































