Dari dua penampilannya di Olimpiade, pencapain terbaik Butet β sapaan atlet 30 tahun itu βadalah medali perak di Beijing 2008. Berpasangan dengan Nova Widiyanto, kala itu mereka dikalahkan pasangan Korea Selatan, Lee Yong Dae/ Lee Hyo-jung, di babak final.
Empat tahun kemudian di London, berpartner dengan Tontowi Ahmad, mereka kandas di babak semifinal, dan tak mampu pula meraih medali perunggu setelah di perebutan tempat ketiga takluk dari pasangan Denmark, Joachim Fisher Nielsen/Christinna Pedersen.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bagaimana persiapan Butet menjelang Olimpiade di rio de Janeiro mendatang, berikut wawancara detiksport dengan dia di Pelatnas Cipayung, Jakarta, Kamis (16/6/2016) siang:
Seperti apa persiapan kamu jelang Olimpiade?
Kemarin kita sudah bermain di Australia Open. Sekarang baru pemulihan dulu, masih ada waktu sekitar 1,5 bulan. Mudah-mudahan bisa kami maksimalkan. Yang paling penting 'kan kesehatan karena pengaruh juga untuk kondisi fisik, mental, dan tekniknya.
Ada persiapan khusus?
Persiapan khusus ada. Ini 'kan Olimpiade, kejuaraan paling penting ya. Pastinya dari segi teknis dan nonteknis akan lebih dievaluasi lagi. Dari segi partner dan pelatih. Bagaimana supaya lebih maksimal lagi di Brasil. Selain itu, soal udara dan waktunya juga pasti berbeda, jadi fokusnya harus lebih maksimal lagi.
Kamu melihat Olimpiade tahun ini seperti apa?
Excited ya, karena Olimpiade ini mempertandingkan seluruh cabang olahraga, kami pun pemain bulutangkis pasti tujuannya ajang tertinggi itu. Memang kadang-kadang dari atlet jadi bumerang karena terlalu fokus. Makanya, kita enjoy dengan persiapan yang matang dan kosentrasi yang full. Nanti hasil di lapangan itu yang menentukan.
Jadi tidak dijadikan beban 'kan?
Kalau saya, beban (itu) wajar. Selama ini saya menjalani pasti ada beban untuk harus juara. Tapi saya berpikir dibalik saja. Saya berpikir positif. Mmemang saya sekarang di ranking tiga, ganda campuran, target medali. Pastinya saya jadikan hal positif, bahwa saya pantas ditargetkan. Saya akan berusaha semaksimal mungkin dari semuanya. Mudah-mudahan dari peak performance-nya nanti ada di Olimpiade. Pastinya saya dan Tontowi dan teman lainnya bisa meraih medali emas di sana.
Dari turnamen terakhir, evaluasi terkahir dari pelatih ada?
Pastinya ada. Saya sempat turun di Malaysia Open juara. Lalu turun lagi di dua turnamen. Kalau saya lihat, bukan kita saja tetapi pemain top lainnya yang tidak terduga seperti Chen Long, Zhang Nan/Zhao Yunlei, di dua turnamen ini hasilnya kurang baik. Mungkin sebelum ini kita ikut beberapa turnamen karena fokus ke poin. yang akhirnya begitu lolos baru sadar kita merasa ... gilak. Selama ini fokusnya berlebihan sehingga merasa capek. Tapi dua pertandingan itu jangan dipikirkan juga. Kita harus fokus di Olimpiade. Itu sebagai bahan evaluasi dan instropeksi diri. Ini sebagai bahan juga buat Olimpiade nanti.
foto: detiksport/raya |
Di Olimpiade akan menggunakan konsep round robin menguntungkan tidak?
Rund robin itu ada enaknya, ada tidaknya. Seperti saya di Olimpiade 200, sistem gugur. Kalau begitu seeded-nya enak. Babak satu, dua, tiga langsung gugur. Tidak berat. Tetapi ini kita ketemu semua. Satu yang harus dipersiapkan pasti kondisi fisik dan fokus. Karena kalau dulu satu gugur, besok menang. Kalau sekarang 'kan kalah pertama, belum tentu besok kalah juga. Jadi paling bagus menang terus.
Peluang Anda dengan sistem round robin ini?
Kalau peluang 50:50, karena ada yang cocok dengan (konsep round robin) itu, tapi ada yang tidak cocok. Jadi itu tergantung siapa yang paling siap saja. Kita 'kan bisa lihat tebak-tebak. Nanti hasil akhir hitungannya di poin. Jadi gampang-gampang susah juga.
Perbedaan Olimpiade tahun ini dengan sebelum-sebelumnya?
Mungkin persaingan dulu ketat, tapi sekarang semakin ketat lagi karena kita lihat semua negara imbang. Jadi perbedaannya itu round robin dan dulu sistem gugur. Tapi yang paling penting adalah memikirkan persiapan, kita fokus. Hasil nanti yang menentukan di sana.
Sesemangat apa kamu menghadapi Olimpiade?
Yang pasti ini akan menjadi Olimpiade terakhir buat saya. Saya juga semangat dan dari tahun lalu mencanangkan tujuan main di Brasil ini. Itu semua target pribadi saya. Saya pernah dapat perak, tentu ingin lebih baik lagi, dapat medali emas. Sampai sekarang saya masih punya motivasi itu dan punya tujuan itu di Olimpiade. Jadi fokus ke sanalah.
Kamu tidak bermain sendiri, bermain ganda bersama Tontowi Ahmad. Bagaimana cara menyatukannya misi itu?
Itu makanya kami evaluasi semua dari dua turnamen terakhir. Komunikasi saya dengan Tontowi, bagaimana mencocokan kemauan kita di lapangan. Mungkin Owi ingin seperti apa, saya ingin seperti apa. Bagaimana kita memperbaiki komunikasi di sisa waktu ini. Selain fisik, teknis dll.
Lebih intens berarti komunikasinya?
Saya dengan pelatih, saya dengan partner pasti lebih banyak komunikasi dan terbuka. Kalau mau dibilang 1,5 bulan lama saya pikir tidak lama banget. Jadi kita manfaatkan semua. Ibarat kalau kemarin kita ada yang terlupakan lalu sedikit missed, sekarang ini di Olimpiade harus kita maksimalkan lagi. Cari solusinya seperti apa. Biar hasilnya maksimal di Olimpiade.
Sudah bertemu solusinya?
Kita nanti ngobrol dengan pelatih. Ngobrol bareng. Kalau saya sih pasti kita temukan solusinyalah. Selama ini kita main bareng, ada solusi bagus. Kan bisa. Ada buktinya. Sekarang tinggal kita flashback saja. Dulu pernah juara kok. Jadi saling intropeksi diri saja, kita ini seperti apa.
Yakin tidak, bakal bawa pulang medali emas?
Sebagai atlet kami harus yakin. Tapi yang pasti kami berusaha maksimal. Nanti di ujungnya Tuhan yang menentukan. Kami manusia hanya berusaha, mudah-mudahan bisa menyumbang medali emas untuk Indonesia.
Satu kata untuk Olimpiade?
Emas !
(mcy/a2s)












































foto: detiksport/raya