Bulutangkis telah meloloskan sepuluh atlet ke Olimpiade tahun ini. Mereka dua ganda campuran (Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir dan Praveen Jordan/Debby Susanto), satu pasang ganda putra (Mohammad Ahsan/Hendra Setiawan), satu pasang ganda putri (Greysia Polii/Nitya Krishinda Maheswari), lalu satu atlet dari tunggal putra (Tommy Sugiarto) dan tunggal putri (Linda Wenifanetri).
Untuk mendongkrak kesolidan tim, mereka dikarantina 11-16 Juli di Kudus. Selain melakoni latihan seperti biasa, mereka juga akan mendapatkan sesi motivasi untuk menggembleng mental si atlet.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dijelaskan Budiharto, karantina ini sangat penting untuk menyatukan visi misi juga membangun pemahaman antar atlet dalam satu tim.
"Mereka akan terpisah dari dunianya dan akan tinggal di kampung atlet, sehingga mereka mau tidak mau bertumpu pada tim itu sendiri. Itulah kenapa karantina ini penting, dan mereka perlu satu pemahaman karena tujuannya itu tadi menghilangkan faktor non teknis itu tadi," ucap Budiharto.
Menyoal persentase komposisi antara latihan dengan sesi motivasi, Budi-begitu Achmad Budiharto disapa, mengatakan itu menjadi kewenangan Kepala Bidang Pembinaan Prestasi (Kabidbinpres) PBSI dan pelatih. Pihaknya bersama Satlak Prima hanya menyediakan psikolog dan ahli pemulihan selama berada di Kudus.
"Psikolog dan ahli recovery sudah dari Satlak Prima yang menyiapkan. Psikolog ini pun sudah jadi bagian dari motivator. Kami tidak memasukan motivator (orang) baru karena efeknya justru malah tidak bagus, perlu penyesuaian lagi. Prinsipnya, buat atlet itu sekarang yang penting adalah situasi yang kondusif untuk mereka bisa berbuat maksimal. Menghilangkan faktor-faktor non teknis, karena orang baru belum tentu sesuai dengan irama tim yang ada sekarang," Budiharto menjelaskan.
Sehubungan dengan itu, PBSI juga telah menyiapkan logistik dan tim penanggung jawab dapur dan nutrisi untuk membantu segala kebutuhan tim. Termasuk saat di Sao Paulo nanti.
Setelah menjalani pemusatan latihan di Kudus, Hendra dkk. akan kembali ke Jakarta berlatih rutin. Barulah pada 27 Juli mereka bertolak ke Sao Paulo untuk beradaptasi dengan kondisi dan cuaca Brasil.
"Logistik pasti sudah kami siapkan dan setiap bulan ada orang kami yang juga membantu segala kebutuhan tim, selama karantina di Sao Paulo maupun perkampungan atlet. Sementara untuk Kudus sudah pasti, tim kami juga lengkap dari nutrisi, chef-nya juga," kata Budiharto.
(mcy/fem)











































