PBSI selalu menjadi tumpuan untuk meraih emas sejak bulutangkis dipertandingan di Olimpiade 1992 di Barcelona. Tapi, tak satupun emas dibawa pulang dari Olimpiade 2012 di London.
Sudah begitu, tempat perhelatan Olimpiade kali ini kurang familiar dengan para pebulutangkis. Brasil tidak pernah mendapatkan jatah turnamen di level gold grand prix atau super series dan super series premier yang jadi panggung para pemain level atas.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Panjangnya jeda waktu kedatangan dengan pelaksanaan Olimpiade, mulai 5-21 Agustus, dimanfaatkan untuk beradaptasi dengan cuaca. Agar tetap merasa di rumah sendiri, PBSI menyertakan pasukan lain.
Selain para pemegang akreditasi, seperti atlet, manajer tim, fisioterapi, tim ditambah dengan koki, lawan latih tanding, dan ahli gizi.
"Rombongan yang berangkat ke Sao Paulo nanti cukup besar, ada sekitar 40-an orang. Itu termasuk pendukung dan sparring untuk para pemain," kata Wakil Sekretaris Jenderal, Achmad Budiharto kepada detikSport, lewat sambungan telepon Selasa (28/6/2016).
Menurut Budi, perbekalan PBSI kali ini tak seheboh saat menuju India untuk tampil di Piala Thomas Uber 2012 di New Delhi, India. Kala itu beras pun diterbangkan dari Indonesia.
"Kali ini tidka bawa beras, sebab di sana sudah disiapkan. Kami hanya pelru membawa timnya saja seperti chef dan tim nutrisi. Makanya ke Sao Paulo itu rombongannya besar," jelas dia.
(mcy/fem)











































