PR Terbesar PBSI Setelah Olimpiade: Regenerasi Tunggal Putri

PR Terbesar PBSI Setelah Olimpiade: Regenerasi Tunggal Putri

Mercy Raya - Sport
Selasa, 23 Agu 2016 01:16 WIB
PR Terbesar PBSI Setelah Olimpiade: Regenerasi Tunggal Putri
Foto: Yves Lacroix/Badminton Photo
Jakarta - Setelah meraih satu medali emas di Olimpiade 2016, pekerjaan rumah masih menanti PBSI. Regenerasi nomor tunggal putri menjadi PR terbesarnya.

Ya, jika membandingkan dengan empat sektor lain, yaitu tunggal putra, ganda putra, putri, dan campuran, tunggal putri Indonesia kelihatan sekali masih belum menunjukkan ketangguhannya di level Internasional. Bahkan di Olimpiade Rio kemarin PBSI masih mengandalkan Linda Wenifanetri.

Di pesta olahraga multicabang itu, Linda hanya sampai di babak penyisihan grup. Linda dikalahkan Vu Thi Trang [Vietnam] 11-21 dan 12-21 lalu saat menghadapi pebulutangkis Jepang Nozomi Okuhara di pertemuan berikutnya dengan skor 12-21, 12-21.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Tidak bisa dipungkiri, pebulutangkis tunggal putri Indonesia bahkan kesulitan bersaing di turnamen-turnamen setingkat Super Series. Sementara Linda sendiri, prestasi terbaiknya dalam dua tahun terakhir ialah semifinalis Kejuaraan Dunia 2015.

Wakil Sekretaris Jenderal PP PBSI, Achmad Budiharto, mengakui jika PR terbesar federasinya saat ini adalah regenerasi tunggal putri. Itulah kenapa, kata dia, PBSI mencoba mengumpulkan lagi pemain muda sebagai regenerasi ke depannya.

"Tiga empat sektor kita saat ini sudah sangat siap. Misalnya ganda campuran ada Praveen Jordan/Debby Susanto, Ronald Alexander/Melati Daeva Oktaviani, Ricky Widianto/Gloria Emmanuelle. Kita sudah menyiapkan mereka. Gapnya tidak terlalu jauh? justru lebih bagus," kata Budiharto.

"Begitu juga dengan ganda putra sudah ada Angga Pratam/Ricky Karanda Suwardi, Marcus Fernaldi Gideon/Kevin Sanjaya, Kenas Adi Haryanto/Hardianto, Alhamdullilah Olimpiade 2020 sudah tidak terlalu khawatir. Kemudian kita sudah punya tiga tunggal putra,"

"PR kita paling besar justru tunggal putri. Itu kenapa kami mengumpulkan lagi putri muda untuk regenerasi," ujarnya.

Di luar itu, kata dia, evaluasi PBSI adalah mengubah mental attitude pemain. Selama ini, mental atlet disebut dia cenderung ke manja karena fasilitas yang serba terpenuhi.

"Memang jadi dilema buat kami. Satu sisi menjadi perangsang untuk memotivasi atlet untuk bisa berbuat lebih, tapi di sisi lain yang bisa ditangkap adalah luxury," sambung dia.

"Jadi ke depan mental attitude pemain ini yang harus diubah, ya hal sepele lah seperti disiplin di lapangan dan respek pada pertandingan, itu yang harus didik. Supaya ke depannya atlet jangan lekas puas di Asia Tenggara atau Asia. Mindset-nya harus dirubah," kata dia.

"Selama ini pola pikir atlet jika masuk Pelatnas sudah segala-galanya. Padahal itu salah. Pelatnas adalah baru titik awal untuk mereka menuju prestasi dunia. Jadi mereka harus berjuang. Sekarang mereka banyak yang masuk Pelatnas gayanya sudah seperti juara dunia. Itu yang tidak boleh lagi," ungkap dia.

"Peran pelatih penting untuk bisa menanamkan disiplin, komitmen, achivement. Pelatih harus buka mindset juga. Ya, itu PR kita ke depan," kata Achmad.

(mcy/rin)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads