"Anehnya", Richard malahan yang tampak paling kalem ketika Tontowi/Liliyana memastikan kemenangannya atas pasangan Malaysia, Chan Peng Soon/Goh Liu Ying, di laga final pada 17 Agustus lalu. Ia juga terlihat nyuekin Tontowi saat mengajak dirinya untuk lebih "histeris" merayakan kemenangan mereka.
"Tegangnya saya (lebih) di semifinal," kata Richard menjawab pertanyaan detiksport di Pelatnas PP PBSI di Cipayung, Jakarta, Rabu (24/8/2016), menanggapi banyak penggemar yang merasa heran dengan sikap "cool" sang pelatih.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Foto: REUTERS/Mike Blake |
Tontowi/Liliyana menjadi ganda campuran pertama Indonesia yang mampu meraih medali emas di Olimpiade. Sebelumnya, dua kali ganda campuran "Merah Putih" menembus final, tapi selalu kandas.
Di Olimpiade 2000 di Sydne, Australia, Tri Kusharjanto/Minarti Timur harus puas dengan medali perak setelah dikalahkan pasangan China, Zhang Jun/Gao Ling. Begitu pula di Beijing 2008 ketika Nova Widianto/Liliyana hanya jadi runner-up usai ditundukkan Lee Yong Dae/Lee Hyo Jung dari Korea Selatan.
"Kita sebenarnya bisa juara (ganda campuran) di Sydney . Tapi waktu itu banyak pejabat yang jemawa," ungkap pria yang sudah 16 tahun menjadi pelatih di PP PBSI untuk nomor ganda campuran tersebut.
"Makanya kemarin, waktu Owi/Butet mengalahkan China (di semifinal), saya bilang ke jajaran pengurus, jangan jemawa untuk mengatakan sesuatu (kepada pers). Karena saya trauma. Jadi saya pikir ini pecah telur.
"Ambisi saya sudah terbayar. Saya bersyukur, doa saya dan istri terkabulkan. Saya juga senang karena program saya didukung penuh. Makanya saya berterima kasih kepada Pak Gita (Wirjawan, ketua umum PP PBSI). Berapapun yang saya kirim, ganda campuran tak pernah cancel. Saya bersyukur sekali."
Good job, Coach. Terima kasih atas pelatihannya.
Foto: detiksport/femi |
Pencapaian ganda campuran Indonesia di Olimpiade:
Barcelona 1992 - Nomor ini tidak diperlombakan
Atlanta 1996 - Tri Kusharyanto/Minarti Timur, Flandy Limpele/Riseu Rosalina (perempatfinal)
Sydney 2000 - Tri Kusharyanto/Minarti Timur (perak) Bambang Suprianto/Zelin Resiana (perempatfinal)
Athena 2004 - Anggun Nugroho/Eny Widiowati (babak kedua), Nova Widianto/Vita Marissa (perempatfinal)
Beijing 2008 - Nova Widianto/Liliyana Natsir (perak), Flandy Limpele/Vita Marissa (peringkat ke-4)
London 2012 - Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir (peringkat ke-4)
Rio 2016 - Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir (emas), Praveen Jordan/Debby Susanto (perempatfinal)
(mcy/a2s)












































Foto: REUTERS/Mike Blake
Foto: detiksport/femi