Richard Mainaky yang Kalem Sewaktu Owi/Butet Juara

Richard Mainaky yang Kalem Sewaktu Owi/Butet Juara

Mercy Raya - Sport
Rabu, 24 Agu 2016 16:31 WIB
Richard Mainaky yang Kalem Sewaktu Owi/Butet Juara
Foto: AFP PHOTO / Ben STANSALL
Jakarta - Richard Mainaky adalah sosok yang tak bisa dilepaskan dari keberhasilan Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir jadi juara di Rio de Janeiro. Seperti kedua anak didiknya itu, ia pun mengalami banyak ketegangan.

"Anehnya", Richard malahan yang tampak paling kalem ketika Tontowi/Liliyana memastikan kemenangannya atas pasangan Malaysia, Chan Peng Soon/Goh Liu Ying, di laga final pada 17 Agustus lalu. Ia juga terlihat nyuekin Tontowi saat mengajak dirinya untuk lebih "histeris" merayakan kemenangan mereka.

"Tegangnya saya (lebih) di semifinal," kata Richard menjawab pertanyaan detiksport di Pelatnas PP PBSI di Cipayung, Jakarta, Rabu (24/8/2016), menanggapi banyak penggemar yang merasa heran dengan sikap "cool" sang pelatih.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Karena saya lihat pertandingan dari awal, mereka tampil sangat memuaskan saya. Jadi begitu final saya cuma bersyukur. Sudah nggak lihat Owi panggil saya. Tiba-tiba Butet nomplok saya. Pokoknya saya bersyukur sekali."

Foto: REUTERS/Mike Blake

Tontowi/Liliyana menjadi ganda campuran pertama Indonesia yang mampu meraih medali emas di Olimpiade. Sebelumnya, dua kali ganda campuran "Merah Putih" menembus final, tapi selalu kandas.

Di Olimpiade 2000 di Sydne, Australia, Tri Kusharjanto/Minarti Timur harus puas dengan medali perak setelah dikalahkan pasangan China, Zhang Jun/Gao Ling. Begitu pula di Beijing 2008 ketika Nova Widianto/Liliyana hanya jadi runner-up usai ditundukkan Lee Yong Dae/Lee Hyo Jung dari Korea Selatan.

"Kita sebenarnya bisa juara (ganda campuran) di Sydney . Tapi waktu itu banyak pejabat yang jemawa," ungkap pria yang sudah 16 tahun menjadi pelatih di PP PBSI untuk nomor ganda campuran tersebut.

"Makanya kemarin, waktu Owi/Butet mengalahkan China (di semifinal), saya bilang ke jajaran pengurus, jangan jemawa untuk mengatakan sesuatu (kepada pers). Karena saya trauma. Jadi saya pikir ini pecah telur.

"Ambisi saya sudah terbayar. Saya bersyukur, doa saya dan istri terkabulkan. Saya juga senang karena program saya didukung penuh. Makanya saya berterima kasih kepada Pak Gita (Wirjawan, ketua umum PP PBSI). Berapapun yang saya kirim, ganda campuran tak pernah cancel. Saya bersyukur sekali."

Good job, Coach. Terima kasih atas pelatihannya.

Foto: detiksport/femi

Pencapaian ganda campuran Indonesia di Olimpiade:

Barcelona 1992 - Nomor ini tidak diperlombakan

Atlanta 1996 - Tri Kusharyanto/Minarti Timur, Flandy Limpele/Riseu Rosalina (perempatfinal)

Sydney 2000 - Tri Kusharyanto/Minarti Timur (perak) Bambang Suprianto/Zelin Resiana (perempatfinal)

Athena 2004 - Anggun Nugroho/Eny Widiowati (babak kedua), Nova Widianto/Vita Marissa (perempatfinal)

Beijing 2008 - Nova Widianto/Liliyana Natsir (perak), Flandy Limpele/Vita Marissa (peringkat ke-4)

London 2012 - Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir (peringkat ke-4)

Rio 2016 - Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir (emas), Praveen Jordan/Debby Susanto (perempatfinal)

(mcy/a2s)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads