Tontowi Ahmad Bicara soal Calon Pengganti Butet

Tontowi Ahmad Bicara soal Calon Pengganti Butet

Mercy Raya - Sport
Rabu, 24 Agu 2016 23:31 WIB
Tontowi Ahmad Bicara soal Calon Pengganti Butet
Foto: Rachman Haryanto
Jakarta - Ganda campuran Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir meraih medali emas Olimpiade Rio 2016 sepekan yang lalu. Namun, euforia publik soal keberhasilan mereka masih terasa, termasuk saat mereka tiba di tanah air.

Selama dua hari, Tontowi/Liliyana harus menjalani sejumlah kegiatan dengan jadwal yang padat. Dimulai dari mengikuti arak-arakan, bertemu Presiden Joko Widodo di Istana Merdeka, menghadiri konferensi pers, hingga agenda lainnya yang sudah tercatat di buku agenda Humas PBSI.

Bahkan hingga Rabu (24/8/2016) sore tadi, ketika detikSport mendapatkan kesempatan untuk melakukan wawancara, Tontowi yang terlihat lelah dan mengaku mengalami kram di kakinya tetap menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan. Obrolan menarik pada sore tadi membahas banyak hal, termasuk soal calon pengganti Liliyana.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Berikut petikan wawancara detikSport (D) dengan Tontowi:

D: Bagaimana kabar Anda sekarang setelah dua hari arak-arakan dan sambutan yang luar biasa dari masyarakat?

Owi: Ya, namanya menang pasti seperti itu. Kalau kalah pasti dihina-hina. Ya itu sudah biasa. Kita menyikapinya juga jangan terlalu berlebihan. Ya kita berterimakasih kepada bapak Menpora yang sudah arak-arakan, sudah disambut dengan meriah, dan kami sangat mengucapkan terima kasih.

D: Dua hari diarak dengan kalungan medali emas, rasanya berat tidak?

Owi: haha..haha. Mungkin lupa kali dengan antusiasme warga juga mungkin lupa kita lagi kalungan medali. Kita dadah-dadah saking senangnya, disambut juga. Masyarakat doain kita sampai lupa, sampai tidak berasa lagi. Penerbangan pun terbayar. Pas di bandros pun tak berasa masuk angin, setelah turun justru berasa dingin haha..haha, tapi capeknya hilang saat itu juga.

D: Arti kemenangan ini buat Anda? Apakah ini juga sebagai jawaban untuk publik yang sempat mem-bully Anda?

Owi: Ya, semua terbayar karena ini. Saya juga tidak mau lah setiap kali disalahkan, setiap apa dijelek-jelekkan. Ya, ini jawabannya. Sekarang mana yang suka menjelek-jelekkan saya tidak ada ha..ha ha..ha. Ya saya buktikan dengan permainan saya. Okelah, kemarin-kemarin saya kalah di kejuaraan-kejuaraan apa itu. Tapi, di Olimpiade ini memang target saya, saya ingin membuktikan. Kalau Indonesia Open dan Super Series kan memang setiap bulan ada, ya biarkan saja.

D: Apakah memang sudah ada pikiran kalau Olimpiade akan jadi momentum buat Anda?

Owi: Ya sadar tidak sadar. Ya sudah dekat-dekat itu memang otaknya sudah kacau, tidak sinkron lagi. Pokoknya ibaratnya main Indonesia Open, kami pikirnya sudah Olimpiade. Jadi memang otaknya sudah di Rio. Jadi memang sudah jauh hari sudah memikirkan ke sana dan yang saya lihat bukan saya saja yang kalah tetapi yang lain juga memang berantakan . Mungkin perasaannya sama seperti saya, mungkin otaknya sudah di sana.

D: Apakah Anda sempat merasa tertekan dengan sikap Liliyana yang kerap keras jika kalah dalam pertandingan?

Owi: Ya itu saya responsnya jadi motivasi saya. Namanya orang memberikan motivasi beda-beda tergantung kita menyikapinya. Kalau menyikapinya dengan positif pasti hasilnya positif. Kalau negatif ya hasilnya negatif. Dan memang kejadian (perfoma) kemarin turun itu semua jadi pembelajaran buat saya, Butet juga jadi pembelajaran. Akhirnya saat di Olimpiade keluar semua tentang yang negatif itu jadi benar semua di Olimpiade, entah kita yang saling salah-menyalahkan, sekarang justru jadi dukung-mendukung. Sekarang menjadi satu dan menurunkan ego masing-masing. Itu yang saya lihat kemarin.

Karena toh sebenarnya bisa. Kenapa tidak dari dulu, itu dia. Mungkin ini menjadi pembelajaranlah. Kalau ternyata dari dulu kita bisa, mungkin di Olimpiadenya berubah. Mungkin sudah jalannya seperti itu. Kayak misalnya ada psikolog dan motivator yang ternyata ada pada saat Olimpiade.

D: Apakah ada momen atau pesan yang melecut Anda?

Owi : Saya ingat pesan dari Koh Christian Hadinata waktu sebelum Olimpiade. Jadi saat training camp di Kudus, kita berkumpul. Saya dapatnya di situ. Saya akui. Koh Chris bilang, kita itu soulmate. Soulmate itu harus saling dukung-mendukung, bukan yang satu ke sana yang satu ke sana dan itu memang saya langsung dalam hati saya, iya juga ya. Ngapain saya pikirkan ego saya. Ya itulah di dalam lapangan dia (Liliyana) itu pasangan saya. Ibaratnya Liliyana itu pasangan saya, jadi saat begitu dia di lapangan langsung klik.

Jadi apapun yang dia (Liliyana) lakukan di lapangan itu pasangan saya. Jadi jujur saya akui karena moment itu. Mindset-nya saya dari ketemu Koh Christ itu. Dan saat saya main, saya selalu ingatkan ke Butet, 'inget Ci kita soulmate'. Jadi mau egois tetap satu lagi karena saya menyadari itu.

D: Apakah Anda ada rencana liburan?

Owi: Rencana ada liburan ke Jepara, kebetulan dekat pantai. Sebelum berangkat ke Rio pun saya sempat liburan dulu ke sana jadi lumayan lah. Hotel langsung pantai jadi otaknya fresh.

D: Kabarnya ada rencana umroh sekeluarga?

Owi: Insya Allah. Saya sudah nazarkan. Sebenarnya juara tidak juara saya bakal umroh. Tapi, kalau saya mendapat medali emas, saya akan umroh sekeluarga. Jadi saya, anak, istri, orang tua dan mertua saya.

D: Katanya Anda sempat menginap di rumah Duta Sheila on 7?

Owi: Saya memang sering curhat dengan Mas Duta. Waktu saya ke Jogja, dia bilang 'tidur di rumah saya saja'. Akhirnya saya nginap dan ngobrol ngalor-ngidul. Ya kasih banyak masukan. Jadi motivasi buat sayalah. Saya juga bilang kalau saya dapat emas, saya akan menginap di rumah Duta lagi. Pas menang, Duta hubungi saya, 'selamat ya, om. Jadi nih menginap di Jogja?'. Dia masih ingat.

D: Apakah Anda sempat menyangka jika Liliyana itu punya sikap tak mau kalah?

Owi: Saya tahu memang untuk Olimpiade bebannya berat dan akhirnya saya baru menyadarinya sekarang kenapa tidak dari dulu, tetapi memang jalannya seperti itu.

D: Liliyana sempat berucap akan pensiun. Apa yang Anda rasakan?

Owi : Yang pasti merasa kehilangan lah. Tapi kan mau tidak mau, dilihat dari usia memang sudah tidak muda lagi. Tapi saya juga masih mau main, masa saya main tunggal putra tak mungkin.

Yang pasti mudah-mudahan saya bisa membawa junior saya yang lain untuk juara. Akhirnya saya berpikir bagaimana partner saya nanti dan dari sayanya sendiri harus memperbaiki diri.

D: Jika bisa memilih, ingin berpartner dengan siapa?

Owi : Ya sekarang ada Gloria Emanuelle Widjaja, ada Annisa Saufika, tapi serahkan semua kepada pelatih Richard Mainaky. Beliau dari pertama kenal dengan permainan saya, dia tahu apa yang saya butuhkan. Kalau saya kan hanya prajurit.

D: Harus pasangan yang galak?

Owi: Nanti saya gantian yang galak hahahaha. Ini waktunya saya jajah hahaha enggaklah.

(mcy/mfi)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads