Sejak Susy meraih medali emas Olimpiade 1992, belum ada lagi tunggal putri yang alih-alih menembus persaingan dunia, bahkan juara Asia saja belum muncul. Prestasi yang boleh dibanggakan ada di level SEA Games.
Menurut Susy persoalan pada sektor tunggal putri memang cukup kompleks. Bukan hanya soal sumber daya pemain, tapi juga kualitas pelatih pelatnas.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Atlet-atlet ini harus ditanamkan bagaimana mereka mampu mengalahkan diri-sendiri, bagaimana membangunkan kesadaran mereka untuk menjadi atlet dunia," tutur dia.
Nah, demi mendongkrak prestasi tunggal putri, Susy menyarankan PBSI merombak jajaran pelatih pelatnas. Kemudian, merekrut pelatih yang mempunyai rekam jejak bagus dan memiliki program yang jelas.
"Dengan prestasi yang ditunjukkan atlet itu sudah jadi cerminan kan apakah pelatih itu gagal atau berhasil. Semestinya waktu tiga bulan bisa untuk melihat kemampuan mereka," tutur Susy.
"Sudah saatnya mencari pelatih yang tepat untuk duduk pada posisi itu. Pelatih pada nomor tunggal putri harus mempunyai program karena tuntutan kepada pelatih itu ekstra. Pelatih itu harus mampu mengubah dan membuat revolusi," ucap dia.
(fem/mfi)










































