Presiden ITF David Haggerty melakukan safari ke berbagai negara di Asia Tenggara. Indonesia menjadi lawatannya yang terakhir sebelum akhirnya David dijadwalkan akan terbang ke Australia.
Ketum Pelti (Persatuan Tenis Seluruh Indonesia), Wibowo Suseno Wirjawan, beserta sejumlah pengurus lainnya menyambut kehadiran David di Hotel Fairmont Senayan, pada Minggu (15/1/2017) malam. Wibowo Suseno Wirjawan, atau yang akrab disapa Maman ini buka-bukaan soal kondisi olahraga tenis di Indonesia.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sepanjang tahun 2016 kami sudah menggelar delapan turnamen ITF untuk senior dan empat untuk junior. Sedangkan lokal ada sekitar 200 turnamen. Tentu kami ingin menjaga momen tersebut. Jadi kami berharap bisa meyakinkan pemerintah atas apa yang kami lakukan," kata Maman, membuka obrolan.
Sayangnya, kata Maman, masalah utama olahraga di Indonesia adalah hampir semua orang tua kurang yakin jika anaknya menggantungkan hidupnya pada olahraga, terutama cabang tenis. Karena itu, pihaknya pun mencoba membuat program beasiswa untuk menarik kembali minat orang tua dan anak.
"Kami sudah berusaha mengadakan program beasiswa untuk meyakinkan mereka. Salah satunya dengan mengirimkan atlet yang berprestasi untuk mengikuti beasiswa di Amerika Serikat. Jadi saya berharap ITF bisa membantu Indonesia untuk berbicara di kampus-kampus Amerika untuk meningkatkan program beasiswa. Mereka mungkin bisa menampung banyak pemain asal Indonesia. Dengan begitu, orang tua bisa semakin yakin mendukung anaknya menjadi atlet," ucap Maman.
Menjawab hal itu, David mengatakan persoalan Indonesia sebenarnya terjadi juga di beberapa negara lain. Kendati ia juga mengapresiasi soal banyaknya turnamen yang sudah digelar.
"Permasalahan tersebut memang terjadi tidak hanya di Indonesia, tapi juga di beberapa negara. Namun untuk diketahui, tenis mengajarkan nilai-nilai kehidupan dan membentuk karakter. Olahraga lain juga seperti itu. Tapi tenis lebih mengarah ke kepribadian. Jadi kita memang harus mengajarkan tenis sejak kecil," kata David.
Lebih jauh David mengatakan peluang beasiswa di Amerika memang banyak tetapi Indonesia bisa memilih opsi negara lain jika mau. Seperti Australia yang olahraga tenisnya tengah berkembang.
"Indonesia mungkin bisa bekerja sama dengan beberapa negara tetangga. Misal Malaysia dan Thailand untuk meningkatkan pembinaan pemain muda. Tidak harus mengirim ke Amerika Serikat. Tapi juga bisa dikirim ke Australia, khususnya di Melbourne yang juga cukup bagus dalam tenis," kata dia.
"Beasiswa di Amerika Serikat memang besar, tetapi di Asia Tenggara mungkin bisa rapat untuk membicarakan turnamen junior dengan skala besar. Kita harus bekerja keras bersama-sama agar olahraga tenis semakin dikenal," pungkas dia. (mcy/rin)











































