Kendati memiliki banyak turnamen internasional, Indonesia cuma memiliki 20-30an wasit grade atau level 2. Padahal ada sekitar seribu wasit yang sudah memiliki lisensi grade 1.
Menurut Komite Kepelatihan PP Pelti Atet Wijono untuk menggelar kursus pelatih level 1, tenaga pengajar dan penguji cukup pengajar dari Indonesia. Sementara untuk level 2 itu menjadi kewenangan ITF. Sebab, pengajar adalah perwakilan ITF.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Saat mendapatkan kunjungan President ITF, Haggerty, di Hotel Fairmont Senayan pada Minggu (15/1/2017) malam, Gunawan mengungkapkan harapannya tersebut.
"Kami tidak bisa melakukan sendiri kursus pelatih. Apakah kami bisa mendapat bantuan agar pelatih Indonesia bisa mengikuti kursus tersebut? Berdasarkan info kami hanya punya jatah satu," ucap Gunawan.
Haggerty belum dapat mengiyakan permintaan Pelti. Dia berjanji akan mendiskusikan hal ini dan akan mempertimbangkannya.
"Kami mungkin akan memikirkan ke depannya. Kami akan berusaha mendiskusikan mengenai kepelatihan khusus pelatih Indonesia. Saya mungkin akan berbicara dengan pihak Singapura untuk bisa bekerja dalam hal tersebut," kata Haggerty.
"Kami mungkin bisa mengadakan workshop pelatih. Tidak hanya memakai bahasa Inggris. Tapi juga ada penerjemah.
"Saya berharap Indonesia bisa meningkatkan kepelatihan. Saat ini memang hanya level 1 ITF, tapi akan lebih baik jika ada yang berlevel 2," ujar dia.
Dibandingkan negara Asia Tenggara lain, perkembangan tenis Indonesia memang jalan di tempat. Namun Haggerty tidak ingin membahasnya secara spesifik, sebab setiap negara memiki kelebihannya masing - masing.
"Setiap negara punya kelebihan masing-masing. Indonesia mungkin masih kalah dalam kepelatihan. Beberapa negara sudah banyak pelatih level 2. Tapi di Indonesia punya kelebihan dalam menggelar turnamen. Cukup banyak turnamen ITF di sini, meskipun masih kalah dengan Thailand. Sementara Singapura misalnya punya kemampuan dalam fasilitas, terbukti dengan turnamen WTA," ungkap Haggerty.
"Karena itu, sebenarnya kerja sama dengan negara-negara tetangga itu penting. Karena dengan begitu, mungkin negara-negara Asia Tenggara bisa bekerja sama menggelar turnamen, khususnya untuk mengirimkan pelatih dan wasit, " ucap dia.
(mcy/fem)










































