Dalam pertandingan, entah itu di bulutangkis atau olahraga lainnya, kemenangan adalah tujuan utamanya. Seorang atlet memang harus dan sudah sewajarnya berpikir demikian, karena salah satu ukuran sukses mereka adalah seberapa jauh dan besar kemenangan yang mereka raih.
Yang kemudian menjadi lebih penting adalah, bagaimana tahapan dan proses tumbuh yang dilalui sang atlet. Mereka perlu terus mengasah kemampuan, meminimalkan kekurangan, dan naik level dari waktu ke waktu, untuk mencapai sukses yang lebih besar.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Misalnya, atlet-atlet Jepang dikenal punya kegigihan dan daya juang yang tinggi, apapun kondisinya. Ini tak terlepas dari budaya hidup mereka yang memang pekerja keras, disiplin, dan penuh komitmen.
Barangkali para penggemar bulutangkis juga masih ingat, bagaimana Kenichi Tago dan pemain muda berbakat, Kento Momota, dihukum dan dicerca habis-habisan publik Jepang karena melakukan judi ilegal. Kasus itu membuat Tago didepak dari tim nasional, sementara Momota dicoret dari Olimpiade Rio de Janeiro 2016 lalu, bukan menurut pertimbangan BWF tapi murni keputusan Jepang sendiri.
Foto: Stanley Chou/Getty Images |
Sedemikian ketat dan tegasnya orang-orang Jepang, mereka bahkan rela menghukum salah satu atletnya yang paling bersinar. Bagi Tago dan Momota sendiri, membangun kembali reputasi di tanah air mereka bakal sangat sulit, jika tak bisa dibilang mustahil.
[Baca juga: Berurai Air Mata, Tago Harapkan Momota Tetap Bisa Main di Olimpiade]
Padahal sejauh yang diketahui, baik Tago maupun Momota tak memasang taruhan untuk diri mereka, atau berjudi untuk pertandingan bulutangkis. Mereka bermain baccarat (semacam permainan kartu) di kasino, yang barangkali di negara-negara lain masih relatif bisa sedikit dimaklumi.
Apapun itu, ada hal-hal yang bisa dipelajari dari lawan-lawan dengan latar belakang budaya yang berbeda di dalam lapangan ataupun di luar. Di lapangan, Jepang bisa diteladani dari kegigihan dan fokus mereka yang amat tinggi, sementara dari negara-negara lain tentu juga membawa 'identitas'masing-masing.
"Bicara yang kita tidak punya dari pemain asing, sebenarnya itu bicara soal budaya bangsa masing-masing. Kalau dari Jepang misalnya, mereka membawa semangat tim yang tinggi," kata Fung Permadi, mantan pebulutangkis top Indonesia yang satu angkatan dengan Ardy Wiranata, Alan Budikusuma, Joko Suprianto, dan Hariyanto Arbi.
"Kalaupun kalah, angkanya tertinggal, mereka tetap semangat, sesuatu yang perlu kita tiru. Itu salah satu tujuannya seorang atlet mengikuti pertandingan, belajar baik dari lawan, maupun belajar menguasai keadaan," imbuhnya.
Foto: Femi Diah |
"Belajar bagaimana menghadapi kesulitan karena kalau dalam latihan kan tidak ada tekanan, jadi semua kemampuan bisa keluar. Tapi kalau di pertandingan, ada banyak tekanan untuk menang, soal lapangan ada angin, lampu yang silau, itu kesulitan yang harus dihadapi. Itu berpengaruh semua terhadap skill," sebut pria yang kini memanajeri tim Djarum Kudus di Djarum Superliga Badminton 2017.
Seperti yang dibilang pepatah: seorang yang bijak mendapatkan lebih banyak manfaat dari lawannya, ketimbang yang didapatkan seorang yang bodoh dari teman baiknya.
(raw/krs)












































Foto: Stanley Chou/Getty Images
Foto: Femi Diah