Prestasi dalam karier bulutangkis Liliyana paripurna usai menjadi juara ganda campuran Olimpiade 2016 Rio de Janeiro. Butet--demikian dia kerap disapa--bersama Tontowi Ahmad sekaligus berhasil mengembalikan emas yang sempat hilang dari kontingen Indonesia empat tahun sebelumnya.
Spekulasi masa depannya pun bergulir. Dia disebut-sebut bakal pensiun setelah pulang dari Rio. Namun, sang pelatih Richard Mainaky menjawab sesegera mungkin: Liliyana bermain dengan Tontowi sampai Asian Games 2018.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Melanjutkan karier sampai 2018 artinya adalah otomatis Liliyana harus melawan usianya. Hari ini, Jumat (3/3/2017) saat mengumumkan keikutsertaan pada All England Terbuka Super Series Premier mulai 7-12 Maret, Liliyana berusia 31 tahun, lima bulan, tiga pekan, satu hari. Richard mengantisipasi situasi tersebut dengan mencarikan pasangan kedua buat Tontowi. Dalam turnamen tertentu, Tontowi dipasangkan dengan Gloria Emanuelle Widjaja. Liliyana hanya diturunkan dalam turnamen-turnamen besar agar hemat tenaga.
Namun soal mental, tak perlu meragukan Liliyana. Setelah meraih emas Olimpiade, rasa lapar gelar masih tersimpan dalam dirinya. Faktanya, Liliyana bersama Tontowi berhasil menjadi juara Malaysia Terbuka 2016 di bulan November.
Jika mental dan usia tak diperhitungkan, Liliyana akan menghadapi turnamen tertua bulutangkis itu dengan cedera. Ya, ini akan jadi All England pertama bagi Liliyana dengan bayang-bayang cedera. Sebab, untuk pertama kalinya Liliyana dibekap cedera serius pada China Terbuka 2016.
"Fisik dan mental tentu menjadi fokus kami, karena sudah tiga bulan tidak ikut pertandingan. Tentu akan ada penyesuaian lagi, walau tidak lama, tetapi dari babak awal harus on fire dan fokus karena sudah berapa tidak ikut pertandingan. Takutnya kita meraba-raba, itu yang jadi bahaya," kata Liliyana di Cipayung, Jumat (3/3/2017).
"Untuk me-maintenance cedera, sehabis latihan biasanya saya langsung konpres dengan es, atau saat main diamankan dengan menggunakan deker atau taping. Jadi supaya aman juga.
"Karena belum pernah cedera jadi untuk mengatasinya belum punya pengalaman. Saya sih bersyukur hal itu baru dikasih sekarang ini. Tetapi ya sempat kesal juga, kenapa sih (kok cedera). Tetapi, bukan berarti saya meremehkan cedera yang lain tetapi untuk jalan saja pakai lutut. Apalagi seperti kita ini kan harus loncat, maju mundur, itu yang mungkin bikin jadi lama mengurangi traumanya," ungkap dia.
Namun, Liliyana adalah Liliyana. Ketika sudah bilang 'bersedia' maka dia akan tampil habis-habisan, bukan setengah-setengah. Dia tak akan menjadikan cedera ini sebagai alasan. Apalagi soal usia yang sudah disadarinya lebih dulu. Sedikit angin segar buat Liliyana, PBSI menyebut tumpuan untuk mendapatkan juara kali ini ada pada Praveen Jordan/Debby Susanto, bukan dia dan Tontowi lagi.
"Bermain sebaik mungkin dan kasih yang terbaik. Tetapi kita lihat Praveen Jordan/Debby Susanto kan sudah juara kemarin, saya pikir sudah saatnya juga di turnamen berikutnya mereka pantas ditargetkan. Supaya saya dan Tontowi bebannya bisa lebih berkurang," ungkap perempuan asal Manado itu.
"Sebenarnya tidak ada target ya. Kami hanya ingin main sebaik mungkin. Tetapi pastinya kita tidak ingin kalah di lapangan, ingin jadi yang terbaik," ujar dia.
(mcy/fem)











































