Sebagai turnamen tertua bulutangkis, All England selalu menawarkan gairah tersendiri bagi para pemain bulutangkis sejagat. Indonesia bakal bertarung dengan kekuatan 23 pemain pada perhelatan tahun ini yang digelar di Birmingham mulai 7-12 Maret ini.
Menilik sejarah yang pernah dilalui, prestasi pasukan 'Merah Putih' tak buruk-buruk amat. Di ajang tersebut, Indonesia menempati urutan keempat tersukses, kalah dari Inggris dengan koleksi 197 gelar juara, Denmark (87), dan China (80).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di antara pemain-pemain Indonesia, prestasi Rudy Hartono yang paling mentereng. Rudy mencatatkan sejarah sebagai pemain yang sukses mengantongi delapan gelar juara dengan tujuh di antaranya beruntun.
Sulitnya mendapatkan gelar dari All England pernah melanda Indonesia. Paceklik gelar selama sembilan tahun dirasakan setelah Candra Wijaya/Sigit Budirto meraih titel ganda putra pada 2003. Adalah pasangan Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir yang menuntaskan pekerjaan berat pada gelaran serupa di tahun 2012.
Sejak itu, Indonesia juga tak selalu mulus mendapatkan gelar juara. Pada perhelatan All England 2015, setelah TontowiLiliyana meraih hattrick di tahun sebelumnya, pasukan Indonesia kembali pulang dengan tangan hampa.
Praveen Jordan/Debby Susanto menuntaskan tugas sebagai juara lagi pada All England 2016. Praveen/Debby menyumbangkan gelar ke-44.
Kini Indonesia mengirimkan 23 pemainnya. Harapan besar menyertai keberangkatan mereka agar gelar tak berhenti di angka 44! Semoga.
Negara-negara tersukses sepanjang sejarah All England (10 besar):
1. Inggris 197
2. Denmark 87
3. China 80
4. Indonesia 44
5. Korea Selatan 34
6. Malaysia 25
7. Irlandia 20
8. Amerika Serikat 18
9. Jepang 14
10. Swedia 6
(fem/krs)











































