Tercipta All Indonesian Final pada partai puncak tunggal putra All England 1976. Dua pebulutangkis yang sudah punya nama dengan tujuh gelar juara, Rudy, ditantang juniornya yang memiliki jumping smash luar biasa, Swie King.
Rudy kesulitan ke babak final. Dia dipaksa bekerja ekstra keras oleh Flemening Delfs (Denmark) pada semifinal.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun saat tampil di final, Swie King seolah kehilangan tenaga. Sebaliknya, Rudy tampil lebih trengginas.
Rudy berhasil menjadi pemenang dengan skor 15-7, 15-5. Rudy berhasil meraih gelar juara ke delapan. Rudy sekaligus menciptakan sejarah sebagai pemilik gelar juara All England paling banyak pada tunggal putra.
Dia melewati rekor milik Erland Kops (Denmark) yang mengoleksi tujuh gelar juara. Kops meraih gelar terakhir pada tahun 1967 tepat sebelum Rudy setahun kemudian.
Kontroversi partai final Rudy versus King itu tercantum dalam biografi Swie King "Panggil Aku King" yang ditulis Robert Adhi KSP. Tentang final 1976 itu sampai menjadi highlight di sampul belakang biografi tersebut.
Disebut-sebut ada pihak yang meminta agar Swie King mengalah. Semua demi rekor baru.
"Aku sungguh menyesal tidak bermain habis-habisan sampai 'berdarah-darah' dalam partai final All England itu," ujar Swie King dalam biografi itu.
Bagaimana respons Rudy? Rupanya Rudy tak mempersoalkan kontroversi itu.
"Begini saja, orang punya hak untuk katakan itu. Tapi sejarah sudah terukir dan nama saya yang menjadi juaranya," kata Rudy dalam obrolan dengan detikSport.
"Tidak ada kan dalam catatan-catatan itu disebutkan Rudy mendapatkan juara delapan kali karena diberi oleh temannya. Bukankah justru kasihan kepada yang memberi. Kenapa? Karena akan disindir sama orang lain nanti. Kok mau memberikan gelar juara kepada pemain lain? Faktanya, saya yang menjadi juara," ungkap Rudy.
(fem/krs)











































