Federer, 35 tahun, baru saja memenangi Miami Terbuka setelah mengalahkan rival lamanya Rafael Nadal dua set langsung 6-3, 6-4 di final, Senin (3/4) dinihari WIB. Sukses ini melanjutkan performa gemilang petenis Swiss itu pasca comeback dari cedera berkepanjangan di musim sebelumnya.
Federer mengawali musim ini dengan luar biasa. Sebelum berjaya di Miami, Federer berhasil menjuarai Australia Terbuka dan Indian Wells untuk membukukan rekor menang-kalah 19-1. Satu-satunya kekalahan itu dideritanya di Dubai Terbuka melawan Evgeny Donskoy.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Aku ingin tetap sehat karena ketika diriku sehat dan merasa baik maka aku bisa menghasilkan tenis seperti ini," ucap Federer usai mengalahkan Nadal.
"Aku tidak lagi berusia 24 tahun. Jadi banyak hal yang harus berubah dan aku mungkin tidak akan bermain di turnamen tanah liat, kecuali Prancis Terbuka," sambung dia, yang dikutip Reuters.
"Aku butuh istirahat. Tubuhku perlu istirahat. Aku perlu waktu untuk bersiap," lugas Federer.
Tidak bisa dipungkiri bahwa tanah liat bukanlah permukaan favorit bagi Federer. Dalam 18 titel Grand Slam yang sudah diraihnya, Federer baru sekali juara di Prancis (2009), dan 10 gelar lainnya datang dari lapangan keras (5 Australia Terbuka dan AS Terbuka), serta tujuh di Wimbledon.
"Kalau aku tidak merasa sebaik ini maka aku jelas tidak akan bisa di final bersaing dengan Rafa," sambung dia.
"Itulah mengapa masa rihat ini di musim tanah liat dan fokus segalanya ke Prancis, permukaan rumput (Wimbledon) dan kemudian lapangan keras (AS Terbuka) yang akan menjadi kunci bagiku." (rin/nds)











































