DetikSport
Rabu 07 Juni 2017, 19:20 WIB

Buntut Kegagalan di Piala Sudirman, PBSI Selektif Kirim Pemain

Mercy Raya - detikSport
Buntut Kegagalan di Piala Sudirman, PBSI Selektif Kirim Pemain PP PBSI akan lebih selektif dalam mengirimkan pemain ke turnamen internasional. Jonatan Christie dkk. Foto: Agung Pambudhy
Jakarta - Kegagalan di Piala Sudirman 2017 menjadi tamparan keras bagi PP PBSI. Kini, PBSI membatasi pengiriman jumlah atlet ke turnamen-turnamen internasional.

PBSI yang dipimpin Wiranto mencatatkan hasil terburuk sepanjang sejarah Piala Sudirman. Untuk pertama kalinya, Indonesia terhenti di babak grup ajang bulutangkis beregu campuran dua tahunan itu.

PBSI menyadari ada masalah besar pada regenerasi pemain. Makanya, mulai saat ini mereka mengatur ulang jumlah kompetisi yang diikuti para atlet bulutangkis.

Sekretaris Jenderal PP PBSI, Achmad Budiharto, mengatakan pengaturan itu tak lepas dari hasil buruk Indonesia di Piala Sudirman, Mei lalu.

"Kesalahan di Sudirman ini seperti membangunkan macan tidur karena Wakil Presidden (Jusuf Kalla) sampai membahasnya di sidang kabinet. Mereka khawatir kegagalan ini bakal jadi momok. Apalagi ke depan itu ada SEA Games 2017 dan Asian Games 2018," kata Budiharto di Grand Indonesia, pada Rabu (7/6/2017).

Atas dasar itu pula Menpora Imam Nahrawi memberikan sejumlah rekomendasi. Salah satunya mengaplikasikan sport science dari sisi sumber daya maupun alat-alatnya. Namun, kata dia, untuk bisa diaplikasikan pada tiga event terdekat seperti Indonesia Open, SEA Games dan Kejuaraan Dunia 2017 sepertinya tidak mungkin. Karena sport science tidak bisa instan.

"Kalau instan itu doping dan itu tidak diperbolehkan. Karenanya, yang memungkinkan saat ini adalah mengurangi jumlah turnamen supaya periodisasi pemain berjalan sempurna," ungkap dia.

Satuan Pelaksana Program Indonesia Emas (Satlak Prima), disebut Budi, menyarankan empat turnamen saja yang diikuti. Tapi itu tidak mungkin sebab rata-rata pemain dalam setahun mengikuti 8-12 turnamen, jika sibuk sampai 16 turnamen yang diikuti.

"Bulutangkis itu beda cabor lain yang empat kali ikut kejuaraan saja sudah oke. Tapi di cabang bulutangkis tidak bisa, apalagi ada aturan BWF yang menyatakan pemain yang memiliki peringkat 10 besar dunia wajib mengikuti pertandingan super series premier. Jika tidak akan kena denda 5 ribu dollas AS. Siapa yang mau bayar?"

"Jadi pilihannya 4 diakomodir Satlak Prima, empat lainnya dibayar PBSI. Sejauh ini yang saya ajukan adalah Swiss Open, All England, Japan Open, dan Piala Sudirman, karena itu yang membutuhkan biaya paling besar," tambahnya.

Selain mengatur ulang jumlah kompetisi yang diikuti, Menpora juga meminta roadmap PBSI menuju Asian Games 2018.

"Jadi dari roadmap itu akan tergambar apa saja yang menjadi proyeksi kami di Asian Games, termasuk event-event yang akan diikuti," tuntasnya.



(mcy/fem)

Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed