Di pertandingan pertama dalam laga Grup E, Senin (9/10) pagi WIB, Georgia dihajar 0-5 oleh Inggris. Maria (14), tampil pada dua nomor; tunggal putri dan ganda putri.
Maria menyerah 6-21, 6-21 dari Pamela Reyes. Tampil bersama Lile Lanchava, Maria ditekuk 1-21, 3-21 oleh Abigail Holden/Freya Patel-Redfearn.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Tadi bukan permainan terbaikku dan aku yang terbaik akan mencoba lain kali," sahut Maria yang tidak bisa menyembunyikan kesedihannya setelah menderita kekalahan telak.
Maria berasal dari Georgia, sebuah negara kecil di timur Eropa. Di Georgia, rugby adalah olahraga yang paling populer.
Berawal dari iseng, Maria jatuh cinta pada bulutangkis. Padahal dia berlatih dengan fasilitas seadanya.
"Main pertama umur 8 tahun, jadi aku sudah bermain badminton selama sekitar 5-6 tahun. Tapi bermain secara profesional sejak sekitar tiga tahun. Kami latihan di lapangan kayu, lantai terbuat dari kayu jadi itu tidak bagus untuk kami," kata Maria.
Maria justru mendaptakan kepuasan lain dengan turut membangunkan bulutangkis dari tidur panjangnya. Maria juga mendapatkan pengalaman satu panaggung dengan tim-tim negara kuat bulutangkis. termasuk bermain di negeri yang amat mencintai bulutangkis, Indonesia, di Kejuaraan Dunia Junior kali ini.
"Bulutangkis bukan olahraga populer di Georgia, awalnya sih aku cuma main untuk senang-senang saja. Tapi aku senang dengan pilihanku karena bulutangkis di Georgia seperti tertidur selama 20 tahun dan baru sejak enam tahun lalu mulai bangkit di Georgia. Jadi cukup sulit untuk kami," dia menambahkan.
(rin/fem)










































