detikSport
Follow detikSport Linkedin share
Rabu, 25 Okt 2017 23:22 WIB

Nova Widianto : Hasil WJC Modal Awal Menuju Regenerasi

Mercy Raya - detikSport
Rinov Rivaldy/Pitha Haningtyas Mentari, pasangan ganda campuran Indonesia (Foto: Tim Humas Dan Social Media PP PBSI) Rinov Rivaldy/Pitha Haningtyas Mentari, pasangan ganda campuran Indonesia (Foto: Tim Humas Dan Social Media PP PBSI)
Jakarta - Indonesia menjadi juara umum dalam Kejuaraan Dunia Bulutangkis Junior 2017. Hasil ini diharapkan menjadi titik awal regenerasi ganda campuran.

Bertanding di Gelanggang Olah Raga (GOR) Amongrogo, Yogyakarta, Indonesia meraih dua medali emas dan dua medali perak. Gregoria Mariska yang tampil mengesankan, menjadi juara di tunggal putri. Sementara itu, Rinov Rivaldy/Pitha Haningtyas Mentari menjadi kampiun di nomor ganda campuran.

Gelar juara Mariska membuat tunggal putri Indonesia menghentikan paceklik gelar selama 25 tahun. Pada sektor ganda campuran Rinov/Phita juga tampil apik setelah mengalahkan unggulan tiga asal Indonesia Rehan Naufal Kusharjanto/Siti Fadia Silva Ramadhanti dengan skor 23-21, 21-15, 21-18.

Pelatih ganda campuran, Nova Widianto, mengaku terkejut dengan hasil anak didiknya yang melampui target. Terlebih, hasil itu melalui pertandingan All Indonesian final.

"Kalau evaluasi sih dengan melihat All Indonesian final memenuhi target kami. Saya juga agak surprise. Tapi kemarin sempat ada kecewa juga karena harusnya tiga pasang masuk 8 besar tetapi kalah," kata Nova kepada detikSport, Rabu (25/10/2017).

Nova mengatakan, kemenangan dari timnya tak lebih karena dukungan dari para suporter tuan rumah. Sehingga secara tidak langsung mempengaruhi permainan atletnya.

"Sebenarnya dari segi teknik saya tidak khawatir ya. Karena lawan Korea atau China, tim kita lebih unggul lah. Justru yang saya khawatirkan kemarin adalah mental anak-anak. Terkadang bila anak-anak mainnya jelek pasti jadi beban," dia menjelaskan.

Kendati puas dengan permainan atletnya, Nova sadar prestasi ini harus terus ditingkatkan. Terutama soal memberikan jam terbang kepada pemainnya untuk mempercepat regenerasi.

"Ya, kami berharap ke depan supaya lebih cepat regenerasi. Jadi pertandingannya bisa langsung Grand Prix Gold atau Grand Prix karena 2018 sudah banyak pertandingan. Jika bisa cepat tak perlu menunggu lagi umur sekian misalnya, baru naik," Nova menjelaskan.

"Untuk Super Series sepertinya belum. Di tempat saya itu ada dua, senior (usia 20 tahun) dan junior. Senior kebanyakan di GPG dan GP, sementara yang junior akan turun di Internasional Challenge, tak main di junior lagi. Jadi naik setahap lah. Jika memang mereka prospek mungkin saja bisa lebih dari itu," ujar dia kemudian.

"Kalau dibilang jangan diforsir. Saya bilang yang muda justru harus banyak jam terbang. Mungkin yang tidak boleh diforsir adalah yang senior-senior seperti Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir, misalnya," ucap dia mencontohkan.


(mcy/cas)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detiksport.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com