DetikSport
Jumat 03 November 2017, 00:24 WIB

PBSI Berharap Bisa Pertahankan Psikolog dari Satlak Prima

Mercy Raya - detikSport
PBSI Berharap Bisa Pertahankan Psikolog dari Satlak Prima Foto: Agung Pambudhy
Jakarta - Pengurus Pusat Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia (PP PBSI) tengah dirudung kecemasan lantaran Satlak Prima dibubarkan. Ketiadaan organisasi itu membuat psikolog yang sebelumnya menempel pada PBSI ikut terhenti.

Satlak Prima resmi bubar setelah Peraturan Presiden Nomor 95 tentang Peningkatan Prestasi Olahraga Nasional diteken oleh Presiden RI Joko Widodo pada Oktober lalu. Dengan demikian, pengurus cabang olahraga memegang tanggung jawab terhadap pembinaan atlet.

Pembubaran Satlak Prima membuat PBSI cemas. Sebab PBSI masih menggunakan psikolog dari Satlak Prima. Dengan bubarnya Satlak Prima, psikolog yang ada di PBSI pun ikut terhenti.

Padahal peran psikolog cukup penting untuk meningkatkan mental para pebulutangkisnya. Oleh karena itu, PBSI berharap psikolog dari Satlak Prima bisa tetap dipertahankan di Cipayung.

"Memang betul sampai sekarang PBSI belum punya psikolog. Tadinya ada Bapak Rachman Widohardhono, merupakan psikolog yang ditunjuk Satlak Prima. Tetapi karena satuan itu dihilangkan maka kami harus berusaha untuk memintanya kembali. Syukur-syukur bapak Rachman bisa diambil (melekat) di PBSI," kata Sekretaris Jenderal PBSI Achmad Budiharto di Grand Indonesia, Kamis (2/11/2017).

Budi, demikian Achmad Budiharto karib disapa, berkaca pada pengalaman timnya ketika mempersiapkan pasangan senior Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir menuju Olimpiade 2016 Rio de Janeiro. Di tengah kebuntuan Tontowi/Liliyana karena komunikasi yang buruk, PBSI mengambil langkah dengan memfasilitasi psikolog untuk menyatukan visi.

Hal itu pun terbukti ampuh setelah keduanya sukses bawa pulang medali emas dari Olimpiade.

"Psikolog yang dibutuhkan memang motivasi mereka dalam mengatasi tekanan buat bertanding. Contoh keberhasilan bisa dilihat saat Tontowi/Liliyana di Olimpiade. Psikolog lah yang memecahkan masalah komunikasi antara mereka. Nah, saat ini kami akan coba lagi adakan pendekatan apakah mereka (psikolog) ini bisa menetap PBSI atau memilih yang lain," Budi menjelaskan.

Selain psikolog, PBSI juga menyoroti keberadaan sport science yang cukup penting karena berkaitan dengan recovery atlet. Budi menyadari kelemahan atlet-atlet bulutangkis ada pada recovery yang buruk, sementara turnamen ada hampir setiap bulan.

"Ini yang menjadi fokus ke depan karena penting untuk dilakukan pada turnamen selanjutnya. Orang-orang kami sudah ada ahlinya, tapi memang untuk recovery lebih banyak dibantu Satlak dengan pelatih fisik dari Australia," tuturnya.


(mcy/nds)

Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed