DetikSport
Jumat 24 November 2017, 19:30 WIB

Mulai Tahun Depan, PBSI Wajibkan Pebulutangkis Pelatnas Ikut Kejurnas

Mercy Raya - detikSport
Mulai Tahun Depan, PBSI Wajibkan Pebulutangkis Pelatnas Ikut Kejurnas Susy Susanti (Femi Diah/detikSport)
Jakarta - Pengurus Pusat Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia (PP PBSI) akan membuat aturan resmi untuk Kejuaraan Nasional bagi pemain pelatnas. Mereka mewajibkan pemain tampil di Kejurnas mulai 2018.

kejurnas 2017 dihelat di Pangkalpinang mulai 28 November sampai 2 Desember. Sebagian pebulutangkis pelatnas absen karena harus turun di Dubai.

Kepala Bidang Pembinaan Prestasi PBSI, Susy Susanti, berharap pebulutangkis pelatnas tetap bsia tampil pada Kejurnas. Itu demi mengerek level Kejurnas.

"Untuk tahun ini saya masih lebih fleksibel karena memang programnya itu sudah masuk dari awal untuk keberangkatan ke Korea dan Dubai," kata Susy dalam jumpa pers di Cipayung, Jakarta, pada Jumat (24/11/2017).

"Tapi, tahun depan Kejurnas wajib diikuti semua atlet pelatnas maupun klub. Kami berharap bahwa nilai dari kejurnas itu betul-betul dihargai semua atlet Indonesia, bahwa juara nasional itu betul-betul juara yang sejati," dia menegaskan.

Selain itu, jika tak seluruh pemain tampil di Kejurnas maka juara Kejurnas tak benar-benar mewakili status terbaik. Susy berharap mulai tahun depan, predikat juara Kejurnas benar-benar menunjukkan predikat pemain terbaik di Tanah Air.

"Sekarang kan mungkin karena ada yang tidak ikut, bisa saja juara tapi bukan yang terbaik di Indonesia. Karena itu harapannya dengan cara ini kami akan mendapat yang memang betul-betul yang terbaik. Di samping, kami juga ingin membuat Kejurnas lebih bergengsi lagi," kata dia lagi.

"Kejurnas ini juga diharapkan bisa menjadi ajang uji coba bagi mereka. Contohnya, mungkin pemain pelatnas bisa belajar untuk lebih serius menghadapi lawan yang di bawah. Bukan hanya latihan, tapi juga uji coba dan evaluasi," ujar dia.

Selain itu, Susy juga mengeluarkan aturan baru bahwa atlet yang juara di Kejurnas tidak secara otomatis lolos pelatnas. Kejurnas hanya menjadi salah satu tolak ukur penilaiannya.

"Tidak mutlak langsung dapat Surat Keputusan pelatnas. Kemungkinan magang dulu karena kalau mutlak jadinya malah tidak fair, sebab masih ada kuota. Sementara ada satu provinsi yang terdiri dari klub-klub besar cuma karena kuota terbatas," Susy menjelaskan.

"Sementara di luar pulau Jawa misalnya kuota banyak sedangkan pemain tidak ada. Jika semua dipukul rata artinya kami tidak bijak makanya tidak mutlak seperti itu. Tapi bukan berarti tidak mutlak lantas mengurangi nilai plus bagi yang juara. Kami tetap akan ada penghargaan," dia menambahkan.


(mcy/fem)

Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed