DetikSport
Sabtu 25 November 2017, 00:05 WIB

Test Event Bulutangkis Terkendala Perizinan Istora Senayan

Mercy Raya - detikSport
Test Event Bulutangkis Terkendala Perizinan Istora Senayan Istora Senayan sedang direnovasi untuk Asian Games 2018 (Hasan Al Habsyi/detikSport)
Jakarta - Test event Asian Games 2018 untuk cabang bulutangkis terancam tidak bisa digelar di Istora Senayan. Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia (PBSI) terkendala perizinan venue.

Test event bulutangkis bertajuk Indonesia Masters 2018 sejatinya akan digelar pada 28 Januari-3 Februari mendatang. Istora rencananya akan menjadi lokasi penyelenggaraan turnamen yang levelnya sudah meningkat dari grand prix gold menjadi super series ini.

Namun, dalam perjalanannya, PBSI dibuat galau. Sampai saat ini mereka belum menerima surat resmi dari Panitia Penyelenggara Asian Games (INASGOC). Padahal, sebelumnya sudah ada kesepakatan secara lisan dengan Sekretaris Jenderal INASGOC Eris Herryanto dan Wakil Deputi I Bidang Olahraga INASGOC Djoko Pramono terkait penggunaan Istora Senayan pada Januari 2018.

"Kami (PBSI) masih bingung, tidak ada kepastian. Kami sudah mengajukan surat. Sudah bertemu dengan pejabat INASGOC baik itu Bapak Eris maupun Bapak Djoko. Saat itu, mereka memberikan lampu hijau secara lisan dan kami diminta untuk mengajukan surat secara resmi. Kami sudah ajukan surat sampai dua kali tapi setelah itu isu yang bergulir adalah venue baru dapat digunakan setelah diresmikan Presiden RI, Februari mendatang," kata Sekretaris Jenderal PBSI, Achmad Budiharto, kepada wartawan di Pelatnas PBSI, Cipayung, Jakarta Timur, Jumat (24/11/2017).

"Jadi kami sampai sekarang masih berupaya untuk mendapat kepastian," kata Budiharto.

Budiharto tak ingin berspekulasi soal lokasi pertandingan karena ada beberapa aspek yang sudah kadung didefinitifkan oleh Federasi Bulutangkis Dunia (BWF). Pertama jadwal sudah masuk di BWF, kemudian kota dan tempat sudah didefinitifkan.

"Jadi kami tidak bisa di luar kota Jakarta. Sementara di Jakarta pun Istora menjadi satu-satunya venue yang memiliki 4 lapangan, venue lainnya hanya tiga lapangan. Kami tidak bisa menggunakan tiga lapangan karena levelnya sudah naik ke super series dari sebelumnya grand prix gold," katanya.

PBSI masih berharap ada titik temu dari persoalan ini. Mereka berharap bulan ini bisa terselesaikan. "Apalagi ini tinggal sepekan lagi. Minimal kami mendapat kepastiannya dulu untuk bisa menetapkan langkah selanjutnya," kata Budiharto.

Selain itu, hal ini berkaitan dengan rencana BWF untuk meninjau lapangan. "Biasanya jika levelnya di atas GPG pasti akan ada peninjauan dari BWF. Ya, semoga ada berita baik dan mereka memberi dispensasi khusus," Budiharto mengharapkan.



(mcy/mfi)

Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed