DetikSport
Rabu 06 Desember 2017, 13:43 WIB

Agar Tontowi/Liliyana Tak Melulu Berjuang Sendirian

Mercy Raya - detikSport
Agar Tontowi/Liliyana Tak Melulu Berjuang Sendirian Foto: Yves Lacroix/Badminton Photo
Jakarta - Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir masih menjadi tumpuan Indonesia pada turnamen internasional bulutangkis. PBSI mencari ramuan untuk segera mendapatkan pelapis mereka.

Meskipun memiliki Tontowi/Liliyana dan Praveen Jordan/Debby Susanto pada enam besar dunia, situasi itu dinilai belum benar-benar aman bagi ganda campuran. Penampilan Praveen/Debby, yang ada di urutan keenam dunia dan sekaligus sebagai pelapis inkonsisten. Sebagai gambaran, mereka juara Korea Terbuka, tapi tersingkir di babak pertama Hong Kong Terbuka. Padahal, Tontowi/Liliyana sudah harus pilih-pilih turnamen. Usia dan cedera jadi perkara.

Sudah begitu, Indonesia ditunggu ajang penting tahun depan, Asian Games 2018. Levelnya memang di bawah Olimpiade, tapi status sebagai tuan rumah menjadikan level pesta olahraga bangsa-bangsa se-Asia itu berlipat ganda.

Praveen dan Debby Dijajal dengan Pasangan Lain

Nah, agar Tontowi/Liliyana bisa tampil lebih rileks, Richard membuat terobosan. Dia menjajal Praveen dan Debby dengan pasangan baru. Praveen akan berduet dengan Melati Daeva Oktavianti, sedangkan Debby bersanding dengan pemain ganda putra Ricky Karanda Suwardi.

Richard tak menunggu hasil BWF Super Series Masters Finals. Dia sudah mendaftarkan dua pasangan baru itu pada tiga turnamen internasional 2018; Malaysia mulai 16-21 Januari, Indonesian Master (23-28 Januari), dan India (30 Januari-4 Februari). Dari tiga turnamen itu, menurut Richard, potensi dua ganda campuran itu bisa diketahui. Jika ternyata hasilnya lebih oke saat bersama Debby, apa boleh buat Praveen dan Debby akan berpasangan lagi.

Praveen Jordan/Debby Susanto Praveen Jordan/Debby Susanto (Grandyos Zafna/detikSport)

"Patokan saya untuk melihat Praveen/Debby tetap di Dubai Final Super Series Masters bulan ini. Namun, saya juga harus antisipasi untuk tahun depan, terlepas hasilnya seperti apa," kata Richard kepada detikSport, Rabu (6/12/2017).

"Untuk Malaysia pendaftaran paling lambat 5 Desember. Makanya, saya harus segera putuskan karena saya tidak tahu nanti hasilnya (Dubai) seperti apa," dia menambahkan.

"Apakah mereka tetap bisa saya andalkan sebagai pelapis kedua di Asian Games, atau dengan hasil Dubai itu tidak menjamin. Seandainya hasilnya tidak sesuai dengan harapan saya, nanti mau pisah tidak akan bisa," Richard menjelaskan.

Cara Asah Tanggung Jawab Praveen

Berpisah dari Debby, Praveen, 24 tahun, dipasangkan degan pemain yang sedikit lebih muda, Melati Daeva, 23 tahun. Praveen juga memiliki pengalaman bertanding lebih panjang.

Dengan kondisi tersebut, Praveen diharapkan dapat memikul tanggung jawab yang lebih besar. Dialah yang nantinya menjadi motor tim.

"Penampilan Praveen yang seperti itu dengan Debby, saya masih tanda tanya besar. Masih waswas. Ini kebetulan ada tawaran dari Herry Iman Pierngadi (pelatih ganda putra) untuk Ricky," kata Richard.

"Secara kualitas juga saya lihat tidak jauh beda, semangatnya besar baik itu latihan maupun tanding, ya kenapa tidak dipasangkan," ujar dia.

"Lagipula, ini sebagai shock therapy untuk Ucok (panggilan Praveen Jordan) agar tidak merasa di zona nyaman terus," Richard menjelaskan.



(mcy/fem)

Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed