DetikSport
Selasa 13 Maret 2018, 03:44 WIB

Kata Pelatih Ganda Putra soal Jerman Terbuka, All England, hingga Aturan Servis

Meylan Fredy Ismawan - detikSport
Kata Pelatih Ganda Putra soal Jerman Terbuka, All England, hingga Aturan Servis Hendra Setiawan tengah berbincang dengan pelatih ganda putra Herry Iman Pierngadi (Foto: Rengga Sancaya/detikSport)
Birmingham - Kepala pelatih ganda putra PBSI, Herry Iman Pierngadi, mengevaluasi penampilan para pemainnya di Jerman Terbuka. Herry juga bicara soal peluang di All England dan aturan baru servis.

Sektor ganda putra menjadi sektor dengan pencapaian terbaik di Jerman Terbuka. Dua wakil Indonesia di sektor ini, Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto dan Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan, mencapai babak semifinal. Sementara itu, Angga Pratama/Rian Agung Saputro terhenti di babak kedua.

Fajar/Rian memenangi "perang saudara" melawan Hendra/Ahsan dan lolos ke final. Sayangnya, mereka ditumbangkan pasangan Jepang, Takuto Inoue/Yuki Kaneko, di partai puncak sehingga harus puas menjadi runner-up.


Tim ganda putra selanjutnya akan berjuang di All England 2018 yang dilangsungkan pada pekan ini. Di turnamen ini, para pebulutangkis harus makin terbiasa dengan aturan standar tinggi servis 115 cm.

Berikut wawancara Herry dengan Badmintonindonesia.org yang mengulas berbagai topik.

Apa yang terjadi dengan Fajar/Rian di final German Open 2018?

Sebetulnya di awal mainnya normal, sudah benar, setelah servisnya dinyatakan fault sebanyak lima kali, konsentrasi Fajar agak terganggu. Dia jadi fokus ke servisnya, bola kedua ketiganya jadi agak kagok.

Saya tanya Fajar, dia bilang iya memang jadi terganggu. Sedangkan menurut saya, di pasangan ini playmaker nya Fajar, dia lebih dominan untuk mengatur cara mainnya.

Selain itu, Fajar/Rian banyak bikin kesalahan terutama diatas angka 16, pemain Jepang banyak dapat poin gratis.

Dalam empat pertemuan, Fajar/Rian belum pernah menang dari Inoue/Kaneko, apa kendala yang dialami saat berhadapan dengan pasangan Jepang ini?

Kedua pasangan ini sekelas, kekuatannya imbang. Kelebihan pasangan Jepang ini mainnya safe, sabar, jarang bikin kesalahan sendiri. Kalau mau dapat poin dari mereka, kita harus benar-benar membunuh.

Fajar/Rian selama di German Open mainnya bagus, sesuai yang diharapkan. Di final, mungkin ada faktor sudah tiga kali ketemu kalah terus, tetapi saya menilainya tidak begitu. Menurut saya, pola mainnya nggak jalan. Di pertemuan yang akan datang, saya sudah punya strategi baru untuk Fajar/Rian supaya mengalahkan Inoue/Kaneko.

Sebetulnya Fajar/Rian di German Open itu sudah bagus hasilnya, mereka kalah di final itu bagi saya bukan gagal.

Bagaimana dengan Hendra/Ahsan dan Angga/Rian?

Penampilan di German Open 2018 masih on track dan sesuai harapan, akan tetapi masih ada yang harus diperbaiki. Hendra/Ahsan ini pemain senior, dari segi mental bertanding dan pengalaman sudah cukup lah. Tetapi yang harus diperhatikan itu kesegaran fisik, kekuatan otot dan kecepatan.

Mungkin mereka tidak bisa disamakan dengan Kevin/Marcus atau Fajar/Rian, karena sudah usia, jadi kecepatan menurun. Nah, ini yang harus disiasati, bagaimana ke depannya bersaing dengan pemain-pemain muda. Menurut saya sih, tidak terlalu banyak PR nya.

Angga/Rian masih belum konsisten, kadang bagus, kadang tidak. Dengan pengalaman, jam terbang mereka, saya rasa kemajuannya tidak signifikan. Kita lihat di All England seperti apa, walaupun harus ketemu Kevin/Marcus di babak pertama.

Bicara soal peluang di All England, ganda putra menjadi andalan Indonesia untuk meraih gelar, bagaimana komentar Anda?

Untuk Hendra/Ahsan, saya kira penentuannya di babak kedua, melawan Zhang Nan/Liu Cheng (China). Tetapi mereka juga harus waspada dari babak pertama, lawan pasangan Belanda (Jacco Arends/Ruben Jille), juga harus hati-hati. Kalau bisa lewat babak kedua, ada harapan lah.

Soal Kevin/Marcus, sebelum saya berangkat ke Jerman, memang masih ada cedera sedikit di tangan Marcus, Kevin juga. Tetapi di sisa persiapan seminggu terakhir, saya rasa sudah membaik, walaupun tidak seratus persen. Mereka juga tahu dengan kondisi seperti ini, biasanya mereka akan menyiasati dengan perbedaan strategi permainan. Tapi juga kita harus tahu, Kevin/Marcus belum pernah merasakan aturan servis yang baru.

Kevin/Marcus kalau mereka servisnya aman, saya rasa tidak terlalu ada kendala di All England 2018. Sebelum berangkat ke Jerman, kami sudah tiga kali mendatangkan hakim servis ke pelatnas untuk menilai servis Kevin/Marcus dan hasilnya aman. Paling Marcus satu dua kali fault, itu masih normal, karena sebelum ada aturan ini mereka kan juga suka di-fault satu dua kali, terutama Kevin. Tetapi dari tiga sesi pertemuan dengan hakim servis Indonesia tersebut, mereka bilang servis Kevin tidak ada masalah. Namun kita lihat saja kenyataan di pertandingan sesungguhnya.


Bagaimana komentar Anda soal aturan servis yang baru?

Ini merugikan untuk semua pemain, khususnya ganda. Kita harus mencari solusinya, jangan sampai kita terlalu lama menyalahkan aturan baru ini, bagaimanapun juga, aturan ini harus dijalani dan kita harus beradaptasi.

Dengan uji coba di German Open 2018 kemarin, menurut saya, semua balik lagi ke service judge nya. Jadi kita bergantung pada seseorang, bisa saja dibilang kemenangan ditentukan oleh service judge.

Seperti Fajar main dari babak pertama sampai semifinal German Open itu servisnya aman, tetapi kenapa di final bisa disalahkan sampai lima kali? Saya lihat posisinya servisnya sama, tingginya sama, semua sama, tapi service judge beda orang.

Jadi yang menentukan itu service judge, peluang human error juga besar. Kalau perlu ada hawk eye juga, jadi kalau dinyatakan salah, kita bisa challenge dengan bukti yang jelas, ada rekaman, otentik dan bisa dipertanggungjawabkan, ini lebih fair. Kalau sekarang kan penilaian sesaat saja, yang tahu hanya service judge dan Tuhan, dan keputusan ini mutlak, tidak bisa diprotes.

Apakah akan tetap optimis bisa memboyong gelar dari All England 2018?

Optimis tetap dong, tetapi disayangkan drawing nya kurang menguntungkan untuk Indonesia. Masukan buat BWF, kalau turnamen penting seperti All England, ada baiknya proses drawing itu disiarkan langsung via live streaming atau ada saksi.

Misalnya seperti di beregu, drawing manual dan bisa dilihat semua orang. Jadi kalau draw nya sudah begitu dan masih ketemu sesama Indonesia, ya namanya nasib. Kalau pun drawing menggunakan komputer, ada baiknya bisa disaksikan, kan jauh lebih fair, ini menurut pemikiran saya.

Saat ini penampilan tim ganda putra Indonesia tengah menanjak, pasti sulit menentukan siapa yang layak masuk skuat Piala Thomas dan Asian Games 2018?

Semua juga mau masuk tim Thomas, main di Asian Games, mau juara, termasuk Fajar/Rian. Ya Fajar/Rian harus buktikan, saya melihat bukan cuma ambisi dari omongan saja, tetapi dari hasil, apa yang mereka lakukan di pertandingan, saya bisa menilai.

Saya sudah punya patokan, sudut pandang, kira-kira siapa sih yang akan masuk, siapa yang tidak masuk.



(mfi/mfi)

Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed