DetikSport
Rabu 21 Maret 2018, 11:30 WIB

Susy Susanti Cemas Inkonsistensi Tunggal Putra dan Ganda Putri

Mercy Raya - detikSport
Susy Susanti Cemas Inkonsistensi Tunggal Putra dan Ganda Putri Greysia Polii/Apriyani Rahayu (Agung Pambudhy/detikSport)
Jakarta - Sempat diharapkaan mampu menciptakan kejutan, tunggal putra dan ganda putri kandas di babak awal All England. PBSI khawatir dengan inkonsistensi dua sektor tersebut.

Sebelum All England digelar, selain ganda putra dan ganda campuran yang selalu tampil sip, prestasi tunggal putra dan ganda putri dianggap menjanjikan. Buktinya, di Indonesia Master 2018 di Istora Senayan, Januari, Greysia Polii/Apriyani Rahayu mampu mencapai final dan Anthony Ginting berhasil merebut gelar juara.

PBSI pun berharap besar terhadap hasil manis dua sektor itu di All England. Tapi, Greysia/Apriyani tersingkir di babak pertama. Anthony juga belum berhasil melewati Tommy Sugiarto.

Susy cemas dengan kondisi itu. Apalagi hasil di All England menunjukkan kekuatan negara-negara Asia semakin merata. PBSI akan bekerja ekstra keras untuk menjaga konsistensi itu.

"Iya, memang persaingan saat ini sangat ketat ya. Saya juga melihat dari hasil All England ya dari setiap negara contohnya Jepang satu, Taiwan satu, Indonesia satu, China satu, Denmark satu, justru Korea tidak masuk. Jadi betul-betul kekuatan saat ini sangat merata," kata Susy kepada pewarta.

Peraih medali emas Olimpiade 1992 Barcelona itu berjanji untuk mempercepat kematangan pemain-pemain pelatnas. Apalagi, mereka sudah ditunggu ajang beregu Piala Thomas Uber.

"Untuk beberapa sektor kami butuh kerja keras. Khusus tunggal putra sebetulnya sudah mulai meningkat, sudah dua kali raih gelar juara super series, ganda putri pun sudah mulai progress tapi memang belum stabil prestasinya seperti ganda putra dan mix double," dia menjelaskan.

Diakui istri dari Alan Budikusma ini pembinaan dari masing-masing sektor berbeda. Hal itu dilihat tidak hanya dari satu faktor, melainkan banyak hal. Salah satunya potensi dari si atletnya.

"Ada yang memang atlet itu cepat ya untuk prestasi dan cepat matang, seperti Kevin Sanjaya/Marcus Fernaldi Gideon misalnya. Mereka pemain muda dan bisa cepat naik ke atas. Mereka juga punya potensi, punya kemauan, disiplin, dan juga kerja keras," dia menjelaskan.

"Tapi di sisi lain, ada juga atlet yang punya potensi tapi kemauan kurang. Ada yang punya kemauan tapi potensi kurang. Nah itu sebetulnya membuat si atlet ini juga melalui waktu yang lebih panjang lagi untuk bisa matang," ujarnya lagi.

"Jadi hal-hal seperti itu, pematangan dari teknik, lalu fisik, ada juga dari faktor mental ya, keberanian di lapangan, mengatur strategi, hal-hal seperti itulah yang membuat pemain mungkin di beberapa sektor ini masih belum bisa konsisten dalam berprestasi. Dan ini harus terus dimatangkan secara teru menerus. Jadj bukan hanya dilatih tapi juga bagaimana dia lebih percaya diri, lebih yakin lagi akan kemampuannya untuk bisa mengalahkan lawan," dia mengimbau.

"Target kami untuk semua sektor seperti ganda putra target mungkin di setiap kejuaraan menang. Untuk ganda putri targetnya tahun ini mungkin berapa kejuaraan atau mungkin ranking. Kemudian ganda campuran ada beberapa kejuaraan yang ditargetkan dari mulai semifinal sampai juara. Tetapi untuk yang pelapis mungkin targetnya tidak seperti All England kelasnya agak sedikit dibawah, jadi memang setiap atlet punya target masing-masing," ujar dia.

"Nah, untuk tunggal putra dan tunggal putri yang agak sedikit tertinggal, targetnya ke depan adalah meningkatkan performance dan meningkatkan rangking yang saat ini mungkin ranking tertinggi 29, kami berharap akhir tahun bisa tembus ke level 15 dunia," dia berharap.


(mcy/fem)

Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed