DetikSport
Jumat 06 April 2018, 09:15 WIB

Herry IP di Antara Bulutangkis, Keluarga, dan Burung Berkicau

Femi Diah - detikSport
Herry IP di Antara Bulutangkis, Keluarga, dan Burung Berkicau Pelatih ganda putra pelatnas, Herry Iman Pierngadi (Grandyos Zafna/detikSport)
Jakarta - Herry Iman Pierngadi memiliki tiga dunia yang berjalan beriringan. Dia pelatih bulutangkis, seorang kepala rumah tangga, dan orang lama di burung berkicau.

Prestasi anak didiknya di kancah dunia turut mengerek popularitas Herry. Dia lah yang mendampingi Tony Gunawan dan Candra Wijaya sebagai peraih medali emas Olimpiade 2000 Sydney.

Dia pula yang memoles Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan meraih dua gelar juara All England 2013 dan 2015. Terbaru, dialah yang mengantarkan Kevin Sanjaya Sukamuljo/Marcus Fernaldi Gideon menjadi juara All England.

Di luar bulutangkis, Herry adalah seorang kepala rumah tangga. Dia baru saja merayakan ulang tahun pernikahan dengan Loa Kim Fun yang ke-27. Herry dan istri dikaruniai tiga orang anak; Stevanus Iman Pierngadi, Cintia Maria, dan Karen Aprilia.

Herry Iman Pierngadi bersama istri dan putra putrinya.Herry Iman Pierngadi bersama istri dan putra putrinya. (Grandyos Zafna/detikSport)

Di antara tiga anaknya, hanya si bungsu Karen yang serius bergelut di bulutangkis. Stevanus memiliki usaha desain interior, Cinta Maria mengikuti ibunya, mengembangkan ketrampilan di bidang kuliner.

Untuk klangenan Herry seja lama memilih kegiatan burung berkicau. Hobi itu bahkan sudah menjadi bisnis untuk Herry.

"Hampir 25 tahun saya ngurusin burung, kalau di Jakarta bahkan Indonesia, pemain burung lama pasti kenal saya. Saya main burung bukan pemain, tapi sudah bisnis. Jual beli, transaksi, Awal dari hobi, kalau menghasilkan apa enggak?" ujar Herry dalam wawancara One on One dengan detikSport.

"Sudah lama. Awalnya hobi, hobi, hobi hobi sering juara, burung sering juara ditawar orang, Kok menarik," dia menambahkan.

Nah, untuk kandang burung, Herry malah lebih serius. Dia memiliki tukang yang menerjemahkan desain yang dibuatnya.

Herry mendapatkan referensi dari mana-mana. Termasuk dari perjalanan saat kejuaraan di China.

"Kandang burung juga. Kalau ke China disempetkan. Nggak semua China ada, yang ada pasar burung dan kandangnya bagus-bagus itu di Guangzhou. Saya pasti pergi ke pasar burung. Sangkar lumayan (pasar dan harganya), tergantung kualitas ukirannya. Puluhan juta he he he," ujar dia.

Herry Iman Pierngadi bersama kandang favoritnya.Herry Iman Pierngadi bersama kandang favoritnya. (Grandyos Zafna/detikSport)


Salah satu kandang buatannya bertema Kejuaraan Dunia 2013. Sangkar itu sangat Herry; didesain dengan ornamen bulutangkis dan di dasarnya bertulis Word Champions 2013. Itu menandai sukses Herry mendampingi Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan sebagai juara dunia di tahun tersebut.

"Soal harga sekarang bukan dari cukai yang berpengaruh, tapi kurs dolar. Saya bikin lokal juga. usaha. Saya ada tukang. Yang ngukir dan ngecat finishing ada. Nggak besar, kecil. Tapi desain dari saya. Menghasilkan... jadi serius. Lumayan.
Enggaklah, sebelum istri dan anak saya belum lahir sudah pelihara burung," ujar dia.

"Flu burung. Namanya aja flu burung tapi penyakit itu dari bebek dan ayam. Di burung nggak ada. Burung kan setiap hari dijemur, harus mandi. Beda," dia menambakan.

"Rugi? Pernah lah. Itu kalau burung saya ditawar orang dengan harga mahal, nggak dilepas tapi malah mati. Atau lepas," ujar Herry.



(fem/nds)

Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed