Wismilak International 2005
Pemain Berdoa Untuk Perdamaian Dunia
Kamis, 15 Sep 2005 14:01 WIB
Jakarta - Beberapa pemain yang mengikuti turnamen Wismilak International 2005 melakukan aktivitas off-court yang berbeda hari ini yaitu berdoa ala orang Bali. Kesempatan itu dipergunakan untuk mendoakan dunia. Di Pura Taman, Grand Hyatt Bali, Kamis, 15 Agustus 2005, Trudi Musgrave dan Wynne Prakusya berkesempatan untuk melakukan seremoni yang belum pernah mereka lakukan sebelumnya.Trudi dan Wynne tampak ayu berdandan ala gadis Bali, dengan riasan wajah tipis dan rambut yang digelung sederhana menyerupai sanggul kecil. Mereka mengenakan kebaya dan kain tenun khas Bali.Salah satu syarat memasuki pura adalah menutup pinggang hingga mata kaki dengan sarung (kain), serta memakai selendang yang diikat di pinggang. Konon, selendang itu merupakan batas yang memisahkan antara yang baik dan yang buruk. Trudi, Wynne dan beberapa pengikut persembahyangan berjalan menuju Pura Taman yang berada di taman yang indah dan asri. Hiasan janur menjuntai di sepanjang jalan menuju pura. Alunan gamelan ridik yang dimainkan empat pria di halaman pura seolah mengiringi mereka memasuki Pura Taman.Persembahyangan hari ini ternyata bertepatan dengan kajeng kliwon atau hari suci (hari baik) dalam kepercayaan Hindu. Orang Hindu percaya, sembahyang yang dilakukan di hari suci ini akanmemberi segala kebaikan bagi mahluk hidup dan alam semesta.Sebelum para pengikut persembahyangan memasuki pura, seorang pemangku (pemimpin prosesi persembahyangan) memercikkan tirta (air suci) ke kepala para pengikut persembahyangan, untuk mensucikan diri.Bersamaan dengan itu, gamelan ridik pun berhenti mengalun. Mereka lalu memasuki bale piasan dan duduk bertumpu kaki. Beberapa prajuru membagikan canang sari (sajen bunga) bertatakan talung. Lalu pemangku memimpin persembahyangan. Gerakan tangan saat persembahyangan itu memiliki arti tersendiri. Kedua tangan yang saling mengatup dan diangkat hingga sebatas kepala itu mengisyaratkan konsentrasi untuk menyatukan pikiran. Lalu bunga merah dan putih serta kwangen (dupa) yang bergantian diselipkan di tangan itu merupakan penyembahan bagi Siwa Raditya (Dewa Surya/Matahari) dan Tuhan. Dalam persembahyangan itu, pemangku memanjatkan doa-doa dalam Bahasa Bali. Intinya adalah mengungkapkan rasa terima kasih kepada Sang Pencipta, serta memohon agar selalu diberikan kedamaian di hati dan di dunia. Nyatanya doa itu yang juga dipajatkan oleh para pemain. "Saya berdoa untuk perdamaian dunia," demikian dikatakan oleh Musgrave seusai mengikuti persembahyangan. "Berdoa dengan bunga adalah hal baru bagi saya. Saya berdoa untuk karir, kesehatan, dan negara yang damai. Saya berdoa agar Indonesia damai," tandas Wynne. Semoga (ian/)











































