detikSport
Follow detikSport Linkedin share
Selasa, 16 Apr 2019 20:40 WIB

Rionny Terima Lamaran PBSI Tanpa Konsultasi Mainaky Bersaudara

mcy - detikSport
Rionny Mainaky saat mendampingi tunggal putri pelatnas PBSI berlatih di Cipayung. (Grandyos Zafna/detikSport) Rionny Mainaky saat mendampingi tunggal putri pelatnas PBSI berlatih di Cipayung. (Grandyos Zafna/detikSport)
Jakarta - Rionny Mainaky sah sebagai pelatih tunggal putri pelatnas PBSI. Saat mendapatkan tawaran, dia tak berkonsultasi kepada saudara lain yang menjadi dan pernah melatih di kawah candradimuka Cipayung itu.

Riony sudah cukup lama mendapatkan lamaran dari PBSI itu. Dia diincar oleh Ketua Umum PP PBSI, Wiranto, untuk menangani tunggal putri pelatnas Cipayung sejak awal kepengurusan.

Tapi, Riony masih terikat kontrak dengan PBSI-nya Jepang. Lamaran itu tak surut. Rionny pun mantap pulang kampung.

"Dari awal saya enggak bilang ke siapa-siapa mau kembali. Sharing (keputusan terima menjadi pelatih tungga putri) juga engga. Karena kalau saya bicara ke seluruh teman pasti dibilang jangan pulang," kata Rionny dalam One on One detikSport.

"Kamu di sana prestasi bagus, gaji apa semua sudah enak. Semua pasti bicara seperti itu. Hahaha. Jadi saya tidak mau bilang. Saya hanya bicara kepada istri dan anak-anak saja," ujarnya kemudian.

Saat bercerita soal rencana itu pun yang menyetujui hanya istrinya, Frily Karundeng. Sementara, tiga anak lainnya, kurang setuju dengan rencananya tersebut.

"Mungkin karena mereka sudah punya banyak teman dan anak saya yang paling kecil sekolahnya sudah bagus bagus. Dari cara mengajar, berteman, jadi anak-anak saya tak mau berhenti dari sana," katanya.

"Ya (makanya) ini saya kasih belajar tulis baca, marah melulu dia hahahaha. Dia bilang lebih enak di Jepang, salah pulang ke sini. Tapi dia marah pakai bahasa Jepang," cerita Rionny kemudian tertawa.

Rionny menjawab keberatan sang anak itu dengan memudahkan adaptasi putrinya. Dia juga banyak memberi pelatihan dan kursus-kursus sebelum mendapatkan sekolah yang baru.

"Kalau yang paling kecil jago bahasa Jepang, sementara bahasa Indonesianya hanya mendengar saja. Makanya saya kasih pelajaran tulis, kursus-kursus setiap hari. Jadi sebelum bulan tujuh ini dia masuk sekolah lagi," dia mengungkapkan.

"Ini saya lagi mencari sekolahnya untuk dia. Mungkin cari sekolah yang lima menit dari rumah itu sudah bagus," katanya.

(mcy/fem)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detiksport.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com