detikSport
Follow detikSport Linkedin share
Senin, 29 Apr 2019 11:31 WIB

Ini Cara Endo/Watanabe Lumpuhkan Kevin/Marcus di Final Kejuaraan Bulutangkis Asia

Femi Diah - detikSport
Foto: dok. Humas PBSI Foto: dok. Humas PBSI
Wuhan - Aryono Miranat, asisten pelatih ganda putra pelatnas PBSI, menyebut ganda Jepang Hiroyuki Endo/Yuta Watanabe menjadi jawara di Kejuaraan Bulutangkis Asia 2019 dengan menguras tenaga Kevin Sanjaya Sukamuljo/Marcus Fernaldi Gideon. Mereka pun bisa dengan mudah unggul pada teknik, mental, dan strategi.

Kevin/Marcus menutup Kejuaraan Bulutangkis Asia 2019 di Wuhan sebagai runner-up. Mereka dikalahkan pasangan Jepang, Endo/Watanabe dengan telak 18-21, 3-21.

Pada gim pertama, mereka tertinggal 1-8, sempat mengejar namun kalah di akhir gim. Memasuki gim kedua, laju Kevin/Marcus lebih sulit. Mereka cuma kebagian 1-11 hingga interval.

Aryono, yang mendampingi ganda putra di Kejuaraan Bulutangkis Asia 2019, mengakui lawan memiliki strategi lebih matang ketimbang anak asuhnya.


"Strategi kami kalah, sedangkan defense lawan juga kuat. Menurut saya, penampilan Kevin/Marcus memang secara garis besar menurun, dari dua-duanya, baik Kevin maupun Marcus. Kevin/Marcus memiliki nilai plus dari fighting spirit yang luar biasa, mentalnya, dan menurut saya ini sekarang sudah menurun," kata Aryono dalam rilis PBSI kepada detikSport.

Kekalahan telak gim kedua merupakan imbas dari kerja ekstra di gim pertama, Kevin/Marcus sempat tertinggal 1-8. Tenaga mereka habis.

Perubahan strategi dari menyerang menjadi bertahan juga tak membuahkan hasil. Aryono menyebut mental Kevin/Marcus terlanjur turun drastis di gim kedua.

Hiriyuki Endo/Yuta Watanabe juara Kejuaraan Bulutangkis Asia 2019. Hiriyuki Endo/Yuta Watanabe juara Kejuaraan Bulutangkis Asia 2019. (STR / AFP)

"Kekalahan telak di gim kedua bermula dari gim pertama, sudah ketinggalan jauh 1-8, lalu bisa menyusul. Kalau ketinggalan terlalu jauh itu sebenarnya sudah berat, ditambah lagi sudah balik memimpin, tapi enggak berhasil tambah poin lagi dan malah kalah," ujar Aryono.

"Dari posisi tertekan dan bisa nyusul, itu kan melelahkan, dan performanya jadi menurun. Game pertama kalah, dari segi mental sudah turun. Di gim kedua, Kevin/Marcus sudah mau bangkit, tapi lawan sudah 'ditembak', namun enggak 'mati-mati'. Jadi, Kevin/Marcus agak frustrasi," dia menambahkan.

"Saya sudah menginstruksikan untuk mengubah strategi karena dengan menyerang tidak tembus, coba main bertahan. Tapi, pertahanannya tidak kuat juga. Sudah coba ubah pola main dengan banyak mengarahkan bola ke area belakang lawan dan tidak main kencang-kencang saja, tapi tetap tidak bisa tembus," ujar Aryono.

"Pertahanan lawan memang rapat, tapi dari Kevin/Marcus nya juga tidak yakin, main defense mati, nyerang enggak tembus," dia menjelaskan.

(fem/cas)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detiksport.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com