detikSport
Follow detikSport Linkedin share
Senin, 10 Jun 2019 19:09 WIB

Kalah Lagi dari Pasangan China, Praveen/Melati Masih Punya Banyak PR

Mercy Raya - detikSport
Praveen Jordan/Melati Daeva Oktavianti harus puas jadi runner-up di Australia Terbuka 2019 (Foto: dok Humas PP PBSI) Praveen Jordan/Melati Daeva Oktavianti harus puas jadi runner-up di Australia Terbuka 2019 (Foto: dok Humas PP PBSI)
Jakarta - Praveen Jordan/Melati Daeva Oktavianti kembali kalah dari ganda China di final Australia Terbuka 2019. Ada sejumlah catatan dari PBSI untuk Praveen/Melati.

Indonesia hanya membawa pulang satu gelar juara dari Australia Terbuka setelah Praveen/Melati tumbang di final. Mereka dikalahkan Wang Yilyu/Huang Dongping dengan skor 15-21, 8-21.

Kekalahan tersebut memperpanjang catatan buruk Praveen/Melati melawan Wang/Huang. Dari lima kali pertemuan, Praveen/Melati tak pernah menang dari pasangan peringkat dua dunia itu.

Kepala bidang Pembinaan Prestasi PBSI Susy Susanti menyayangkan kegagalan Praveen/Melati merebut gelar juara. Keduanya dianggap masih belum berani dan tenang.

"Sebenarnya tinggal sedikit lagi. Melati harusnya bisa lebih berani dan tenang. Praveen juga harus lebih mengayomi, kasih masukan, karena biasanya kan dia bersama Debby Susanto. Sama seperti Tontowi Ahmad/Winny Oktavina Kandow, jadi memang butuh kerja keras," kata Susy kepada detikSport, Senin (10/6/2019).

"Praveen itu sebenarnya serangannya ditakuti tapi mungkin defencs-nya harus diperkuat, lebih diperlincah. Begitu pun Melati harus lebih gesit dan defense-nya harus diperkuat jadi ketika dia diserang bisa lebih tenang. Itu tambahan yang harus dibenahi dari Praveen/Melati, itu yang harus dianalisa banget karena turnamen ke depan lebih besar," dia menambahkan.

Susy menampik jika postur tubuh Melati yang berisi menjadi faktor kurangnya kelincahannya.

"Sebetulnya bukan postur tapi kemauan, harus diperlincah betul. Artinya, Melati harus sadar kelemahan dia di mana. Jangan keras kepala, mungkin dia berpikir 'Oh, saya rasa sudah cukup'. Padahal, kalau kalah berarti ada yang kurang," dia menjelaskan.

"Nah, kalau mau juara tentunya harus ada kemauan dari diri dia sendiri. Saat menang dia tahu menang di mana, saat kalah, dia harus tahu kalahnya di mana. Jadi itu," ujarnya.

"Tapi bukan berarti harus diet ya. Alangkah baiknya ditambah latihannya. Contoh ganda Jepang, mereka posturnya bukan yang kurus tapi mereka montok tapi tenaganya dan lincah."

(mcy/nds)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detiksport.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com