detikSport
Follow detikSport Linkedin share
Senin, 17 Jun 2019 16:10 WIB

Periode Kualifikasi Olimpiade Berjalan, Pelatih Tuntut Konsistensi Fajar/Rian

Mercy Raya - detikSport
Fajar Alfian/M. Rian Ardianto dituntut agar lebih konsisten di Kualifikasi Olimpiade 2020 Tokyo.  (Rifkianto Nugroho/detikSport) Fajar Alfian/M. Rian Ardianto dituntut agar lebih konsisten di Kualifikasi Olimpiade 2020 Tokyo. (Rifkianto Nugroho/detikSport)
Jakarta - Pelatih pelatnas PBSI ganda putra, Herry Iman Pierngadi, tak menoleransi lagi penampilan naik turun Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto naik turun. Dia menuntut agar mereka konsisten.

Fajar/Rian tersingkir lebih awal di babak pertama Australia Open 2019. Mereka dikalahkan wakil Korea Selatan, Choi Solgyu/Seo Seung Jae dalam permainan rubber 21-17, 13-21, 19-21.

Hasil ini bisa dibilang di luar dugaan apalagi mereka sempat ditargetkan bisa juara. Herry menyebut Fajar/Rian sedang dalam kondisi yang tidak perform. Mereka dinilai masih tidak yakin dengan kemampuan sendiri.

"Memang hasil itu di luar perkiraan. Harusnya mereka bisa melaju jauh tapi justru kalah di babak pertama," kata Herry saat ditemui di Pelatnas PBSI, Cipayung, Senin (18/6/2019).


Pelatih yang dijuluki fans bulutangkis coach Naga Api ini mengaku telah menyadari ada yang kurang beres dari atletnya. Bahkan, hal tersebut sudah tampak saat persiapan Piala Sudirman, satu minggu sebelum Australia Terbuka.

"Itu kenapa salah satunya saya tidak turunkan di Sudirman karena itu. Saya melihat waktu persiapan di Piala Sudirman mainnya belum balik lagi seperti biasa. Enggak in, makanya saya pasang Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan," dia menjelaskan.

"Yang kedua erornya banyak. Rian itu servisnya banyak eror, belum in banget karena memang mereka belum stabil ya, turun naik, kadang bagus, kadang jelek. Selain itu, lawan mereka juga bukan jelek tapi senior yang sudah cukup lama, yang belakangannya main bagus," ujar dia.

"Ketiga, saya lihat koknya cocok buat lawan, bolanya memang saya tanya pemain cenderung lambat dan itu menjadi tipenya Korea," kata Herry.

Herry juga menilai hal yang membuat mereka di bawah perfoma karena mereka tidak yakin dengan kemampuannya sendiri seratus persen.

"Kepercayaan dirinya masih kadang keluar, kadang tidak, jadi masih belum konsisten. Belum mantap banget. Coba lihat Kevin Sanjaya/Marcus Fernaldi Gideon itu mau ketinggalan, atau tidak, tetap tenang saja. Nah, itu yang masih dibutuhkan mereka dan ini tergantung karakter masing-masing orang," dia menjelaskan.

Herry bilang, sejauh ini, dirinya terus berupaya berkomunikasi dengan pemainnya untuk memecahkan masalah. Termasuk, memberikan motivasi lebih.

"Saya kalau di asrama suka ngobrol, cari contoh, supaya dia mikir sendiri. Saya bilang, dari antara tiga pasang kamu paling muda, kamu jangan kamu merasa aman, kamu harus melewati mereka, waktunya kalau tidak sekarang kapan lagi? Ini sudah masuk perhitungan Olimpiade, lolos tak lolos terserah kamu, kamu yang menentukan, saya cuma membantu," Herry menjelaskan.

"Intinya saya kasih motivasi mereka dan contohnya ada di depan mereka, seperti minions dan The Daddies. Sebenarnya enggak ada malesnya saat latihan, tapi game-nya, pas menang kalah. Ya, masih butuh waktu untuk memberi semangat mereka," dia menambahkan.




Periode Kualifikasi Olimpiade Berjalan, Pelatih Tuntut Konsistensi Fajar/Rian
(mcy/fem)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detiksport.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com