detikSport
Follow detikSport Linkedin share
Rabu, 24 Jul 2019 00:40 WIB

Gagal Penuhi Ekspetasi di Indonesia Open, Jonatan dkk Disorot PBSI

Mercy Raya - detikSport
Pemain tunggak putra Indonesia, Jonatan Christie gagal menjawan ekspektasi di Indonesia Open 2019. (Foto: Agung Pambudhy/detikcom) Pemain tunggak putra Indonesia, Jonatan Christie gagal menjawan ekspektasi di Indonesia Open 2019. (Foto: Agung Pambudhy/detikcom)
Jakarta - PP PBSI dan pelatih punya pekerjaan rumah besar pasca Indonesia Open 2019. Jonatan Christie dkk dinilai masih bermasalah dengan hal-hal nonteknis.

Indonesia mengirimkan 32 wakilnya di Indonesia Open. Namun, hanya satu wakil yang bisa merebut gelar, yaitu ganda putra, melalui Kevin Sanjaya Sukamuljo/Marcus Fernaldi Gideon.

Ganda campuran dan tunggal putra yang digadang-gadang memberi kejutan, justru tampil di bawah perfoma. Mereka kandas di babak perempatfinal.

"Secara keseluruhan evaluasi untuk Indonesia Open ini, ganda putra sesuai prediksi. Memang mereka menjadi andalan kami, jadi cukup satu prestasi juga buat kami. Apalagi setelah 14 tahun, akhirnya ganda putra bisa all Indonesia final lagi di Indonesia Open 2019. Ini pasti apresiasi yang luar biasa untuk ganda putra," kata Kepala bidang Pembinaan Prestasi PBSI, Susy Susanti, kepada pewarta Selasa (23/7/2019).

"Jadi untuk ganda putra ini suatu prestasi yang cukup bagus. Semoga ini bisa bertahan hingga Olimpiade," dia menambahkan.




Kemudian sektor tunggal putra, Susy mengatakan, awalnya dia berharap ada kejutan untuk bisa menembus final karena kesempatan itu ada.

"Ya, kembali lagi Indonesia Open ini terkenal bisa jadi neraka dan surga untuk pemain nonunggulan. Saya melihat kesempatan itu ada untuk Jonatan Christie dan Anthony Ginting, tapi sayang di poin-poin ketat mereka belum stabil, belum konsisten untuk memegang fokusnya. Itu yang mungkin hal-hal nonteknis yang membuat mereka harus terhenti," dia menjelaskan.

Dia mencontohkan, Jonatan saat menghadapi Chou Tien Chen pada gim kedua. Sempat memimpin angka, tapi juara Australia Open 2019, lengah sampai akhirnya Tien Chen berhasil memaksa main rubber dan menang.




"Jadi bisa dikatakan semua kekalahan-kekalahan wakil Indonesia di Indonesia Open terjadi saat mereka leading kemudian tersusul (lawan). Mereka berpikir karena sudah leading jadi bisa santai dulu, padahal tidak bisa seperti itu," ujar peraih medali emas Olimpiade 1992 Barcelona ini.

Istri dari legenda bulutangkis Alan Budikusuma ini mengatakan PBSI telah mengevaluasi dan akan berupaya untuk membenahi, khususnya latihan fokus.

"Jadi selain latihan fokus, latihan lebih menekan lagi. Mereka harus fokus sampai akhir. Mereka mungkin sedikit lengah dan mengendurkan tekanan. Nah, itu yang tidak boleh. Di level seperti ini, musuh kalau di kasih kesempatan bisa berbalik unggul," kata Susy.

"Bisa dilihat ya, bukan kami menganakemaskan ganda putra, tapi soal tekanan khususnya Kevin/Marcus garangnya di atas lapangan tiada ampun sampai laga selesai. Nah, hal-hal itu yang masih perlu pembenahan untuk atlet-atlet lain," dia menambahkan.









Simak Video "Final China Open 2019: Minions vs Daddies, Anthony vs Momota"
[Gambas:Video 20detik]
(mcy/cas)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detiksport.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com