detikSport
Follow detikSport Linkedin share
Rabu, 14 Agu 2019 20:05 WIB

Susahnya Hafiz/Gloria Menyodok Papan Atas Dunia

Mercy Raya - detikSport
Hafiz Faizal/Gloria Emanuelle Widjaja (Wahyu Putro A/Antara Foto) Hafiz Faizal/Gloria Emanuelle Widjaja (Wahyu Putro A/Antara Foto)
Jakarta - Bersama Hafiz Faizal, Gloria Emanuelle Widjaja kesulitan untuk konsisten di persaingan elite dunia. Dia mengakui itu karena terlalu cepat puas.

Bersama Hafiz Faizal, tahun ini Gloria turun di 14 turnamen. Tapi, hasil dari turnamen-turnamen itu tak satupun diselesaikan sebagai juara. Dibandingkan tahun lalu, dengan mengemas satu gelar, yakni Thailand Open 2018, laju mereka boleh dibilang menurun.

Laju Hafiz/Gloria juga masih kalah dari Praveen Jordan/Melati Daeva Oktavianti, yang bisa mencapai final India Open, New Zealand Open, Australia Open, dan Japan Open. Peringkat mereka pun dilampaui Praveen/Melati, yang mengisi posisi keenam dunia, sedangkan Hafiz/Gloria di peringkat kesembilan,

Padahal, tugas Gloria tahun ini kian berat. Sebab, bersama Hafiz, dia digadang-gadang menggantikan Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir.


"Kami sebenarnya tidak terlalu pikirkan ranking. Kemarin turun peringkat karena poin Indonesia Open dan Thailand Open tahun lalu hangus. Jadi tidak apa-apa, semuanya kan berputar," kata Gloria di Pelatnas PBSI, Cipayung, Jakarta Timur, Rabu (14/8/2019).

"Sekarang dilewati Praveen/Melati juga ada plus minusnya. Kalau saya tidak ada di peringkat atas, tapi kan ada mereka (Praveen/Melati). Kami mutar-mutar (bergantian) saja dua pasang ini, saling melengkapi. Tetap, ada bersaing tapi bersaing sehat yang terpenting hasil di pertandingan. Itu kan pengaruh," dia menambahkan.

Pemain berusia 25 tahun ini mengakui cemburu atas laju Praveen/Melati. Gloria bertekad untuk meraih hasil yang lebih sip di Kejuaraan Dunia Bulutangkis 2019 di Basel pekan depan.

"Kecemburuan positif pasti ada, tapi jika dipikir lagi mereka naik ke peringkat enam karena hasil tahun ini mereka memang bagus. Sementara saya dan Hafiz bagusnya tahun lalu, ya tetap dalam hati saya harus bisa (melewati)," kata dia.

"Tahun lalu sampai awal tahun ini memang merasanya tidak mudah. Mungkin diberi waktu juga kali sama Tuhan, 'kamu enggak bisa semudah itu, harus berusaha maksimal.' Jadi enggak boleh mengendurkan diri, atau saya berarti dianggap terlalu cepat puas. Ada rasa seperti itu tapi balik lagi, ya beradu saja sama pikiran," kata dia.

Gloria juga punya alasan kuat kenapa dia harus kerja keras. PBSI yang mematok target meloloskan dua wakil ke Olimpiade menjadi acuannya.

"Perhitungan kualifikasi Olimpiade itu menjadi acuan saja. Artinya, karena harus lolos jadi tak boleh kendur. Kalau bisa kami berdua harus masuk," katanya.

"Sebenarnya saya tak pernah lihat ranking sementara kualifikasi Olimpiade. Jarang update. Yang penting tiap pertandingan saya dan Hafiz main oke. Dengan begitu menjalaninya nanti enak. Kalau ditargetkan malah sakit hati dan beban. Apalagi, kalau gagal nanti jadi drop," dia menjelaskan.



Simak Video "Tiga Wakil Indonesia di Semifinal Kejuaraan Dunia Bulu Tangkis"
[Gambas:Video 20detik]
(mcy/fem)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detiksport.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com