detikSport
Follow detikSport Linkedin share
Selasa, 27 Agu 2019 17:10 WIB

Untuk Hendra/Ahsan: Pasangan Magang Itu Beri Kado untuk (Keberagaman) Indonesia

Femi Diah - detikSport
Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan membawa pulang pulang gelar juara ganda putra ajang Kejuaraan Dunia Bulutangkis 2019. (Foto: ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak)
Jakarta - Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan menyelamatkan muka Indonesia di Kejuaraan Dunia Bulutangkis 2019. Menjadi kado untuk ulang tahun ke-74 Indonesia yang sedang tidak baik-baik saja.

Entah nge-voor atau memang kalah angin, gim kedua bikin geregetan karena tertinggal jauh sejak awal 3-7 dari pasangan muda Jepang, Takuro Hoki/Yugo Kobayashi di St. Jakobshalle, Minggu (25/8/2019) malam WIB. Gim kedua itu pun diselesaikan dengan skor 9-21 setelah unggul 25-23 di gim pertama.

Andai, Hendra tampil bersama Markis Kido, pasangannya saat menjadi juara dunia 2007 dan medali emas Olimpiade 2008 Beijing, yang kocak dan blak-blakan bisa diduga, jawabannya akan seperti ini," Biar masuk tv-nya lama".

Faktanya sih, gim ketiga berlangsung (terlihat) cukup mudah. Apalagi, mengingat kalimat Hendra siang WIB sebelum pertandingan itu.

"Buat final Kejuaraan Dunia Bulutangkis ini, yang disiapkan itu mentalnya. Harus berani dan fokus dari awal. Hasilnya kami serahkan kepada Tuhan," kata Hendra sebelum menjalani final di St. Jakobshalle, Minggu (25/8/2019).

Gim ketiga, sebagai penentu menang atau kalah, Hendra/Ahsan oleh dibilang tak menemui hambatan berarti. Mereka menutup gim itu dengan skor 21-15.


Ya, pasangan yang cukup senior itu, Hendra, yang tepat berulang tahun pada hari final itu, dan Ahsan, yang akan berulang tahun ke 32 pada 7 September itu, berhitung bukan fisik yang akan menentukan laga itu. Tapi, mental.

Dengan kalimat itu, boleh dibilang 75 persen kemenangan untuk Indonesia. Soal mental, merekalah yang bakal bisa lebih relaks di tengah lapangan, saat poin-poin kritis.

Hendra dan Ahsan memang tak cuma numpang lewat di jagat bulutangkis. Telah 12 tahun sejak menjadi juara dunia bersama Kido dan terakhir, menambah dua gelar juara bersama Ahsan pada 2013 dan 2015, juga dari turnamen terbuka tak perlu lagi mempertanyakan mental mereka. The Daddies datang ke Basel dengan bekal juara All England serta finalis Indonesia Open dan Japan Open 2019.

Sementara, pasangan Jepang sama-sama berusia 24 tahun. Mereka tampil bukan sebagai unggulan dengan ada di urutan ke-13 dunia dan di ajang world tour raihan terbaik sebagai runner-up Korea Open 2018. Sudah cukup bagus mereka melaju sebagai finalis dan tidak mengalami starstruck saat menghadapi Hendra/Ahsan.

***

Tanpa Beban Didukung Statistik Oke

Hendra/Ahsan lolos ke Kejuaraan Dunia 2019 dengan meyakinkan. Mereka tampil sebagai unggulan keempat.

Mentas dengan predikat unggulan membuat mereka setidaknya tak perlu menghadapi unggulan di babak-babak awal. Lagipula, mereka tampil di Kejuaraan Dunia 2019 itu sebagai pemilik dua gelar juara dunia yang diraih saat berduet, sedangkan khusus Hendra, dia sudah hat-trick, dengan satu gelar juara dunia didapatkan bersama Markis Kido pada 2007.

"Kalau saya lihat mereka (Hendra/Ahsan) lebih menikmati karena mereka sudah dua kali mendapat gelar Kejuaraan Dunia. Berbeda jadinya jika belum pernah." Begitulah kata pelatih pelatnas bulutangkis ganda putra, Herry Iman Pierngadi.

Gelar dua juara dunia itu bahkan dicapai dengan amat spesial oleh Hendra dan Ahsan. Dalam dua keikutsertaan di ajang itu, mereka selalu meraih medali emas.

Hat-trick gelar juara dunia meneguhkan pencapaian kesuksesan 100 persen di The Daddies di Kejuaraan Dunia Bulutangkis.

Tahun ini, Hendra/Ahsan cuma kehilangan dua gim dari lima laga yang dilakoni. Yakni, saat menghadapi Fajar Alfian/Mohammad Rian Ardianto di babak semifinal dan di final.

Saat menjadi jawara juara 2015, Hendra/Ahsan juga cuma kehilangan dua gim. Yakni, di babak pertama dari pasangan nonunggulan Prancis, Baptiste Careme/Ronan Labar dan di babak kedua saat menghadapi ganda Jepang Kenta Kauno/Kazushi Yamada.

Malah, pada Kejuaraan Dunia Bulutangkis 2013, Hendra/Ahsan mencatatkan laju mulus. Mereka menyelesaikan babak demi babak dengan dua gim langsung. Salah satu laga menghadapi mantan Hendra, Markis Kido yang berpasangan dengan Alvent Yulianto pada babak ketiga.

Selain itu, Hendra masuk klub deretan pebulutangkis ganda putra yang meraih empat gelar juara dunia (terbanyak saat ini) setara musuh bebuyutannya dulu, Fu Haifeng/Cai Yun, dari China.

Hendra dan Ahsan sekaligus menjadi ganda putra Indonesia kedelapan yang sukses membawa pulan medali emas Kejuaraan Dunia. Sejauh ini, hanya 14 pemain Indonesia yang masuk klub juara dunia dari sektor ganda putra.


Mental Matang karena Fisik Sip

Kematangan mental bertanding Hendra/Ahsan tak perlulah dipertanyakan. Pengalaman panjang sepanjang karier dengan asam garamnya menjadi bekal meyakinkan untuk tampil di Kejuaraan Dunia di Basel itu.

Tapi, mental saja tanpa didukung fisik yang sip juga bukan jaminan. Justru seorang atlet disebut siap mental, percaya diri, saat fisik juga sip.

Kendati berusia tua untuk dibilang sebagai atlet veteran, Hendra dan Ahsan memiliki fisik yang tangguh. Mereka mempunyai resep khusus untuk memoles menjelang turun dalam setiap turnamen. Selain dukungan barisan pelatih pelatnas, Hendra dan Ahsan mendapatkan ilmu saat menjadi pemain bebas.

Hendra dan Ahsan, dengan sederet predikat juara, tak gengsi untuk menimba ilmu dari pebulutangkis negara lain. Mereka sangat terbuka untuk menerima hal-hal baru.

"Saat mengikuti liga bulutangkis di negara lain, saya sering bergabung dengan pemain Eropa yang sudah senior banget. Saya tanya-tanya latihan fisik dan lainnya untuk tetap bisa awet bermain," kata Hendra.


Status Magang

Hendra menjalani pelatnas tahun lalu dengan predikat magang. Sempat berada di luar pelatnas, namun dia dipanggil lagi untuk berduet dengan Ahsan. Predikat status magang itu cukup mengejutkan karena biasanya diberikan kepada pemain potensial, namun kuota PBSI sudah penuh sehingga si pemain harus membiayai tur kejuaraan-kejuaraan dunia, visa, dan biaya kesehatan sendiri. Di tahun 2018 mereka juara Singapore Open.

Selama setahun bersama-sama, mereka memutuskan untuk keluar pelatnas, menjadi pemain bebas rasa magang. Sebab, selayaknya pemain profesional, biaya ini itu ditanggung sendiri, namun bisa berlatih di pelatnas, di bawah asuhan barisan pelatih pelatnas ganda putra yang dipimpin oleh Herry Iman Pierngadi. Tahun ini, mereka bukannya kendur, namun malah menolak tua.

Hendra dan Ahsan membuktikan dengan menjadi juara All England, New Zealand, dan juara dunia, serta berderet predikat runner up; Indonesia Masters, Singapore Open, Indonesia Open dan Japan Open. Kini, peringkat dunia mereka cuma kalah dari Kevin Sanjaya Sukamuljo/Marcus Fernaldi Gideon yang mendiami peringkat pertama. Ya, The Daddies mengisi urutan kedua dunia.

Hendra tak pernah merasa repot dengan urusan di luar pertandingan sebagai pemain mandiri yang seolah-olah magang itu.

"Untuk travel dan hotel, biasanya saya minta tolong kepada agen perjalanan. Jadi enggak repot kok," ujar Hendra.

Satu keuntungan Hendra dan Ahsan dengan status itu, mereka bisa lebih relaks menjalani turnamen dengan predikat magang itu. Dua tahun sebelumnya, Hendra pun sudah menyadari, PBSI membutuhkan tempat lebih luas agar leluasa melakukan regenerasi. Salah satu caranya, Hendra mundur dari pelatnas. Waktu itu dia bilang agar terbiasa apa-apa sendiri saat betul-betul meninggalkan pensiun nanti.

Tapi, khusus menuju Kejuaraan Dunia Bulutangkis 2019 ini, mereka masuk dalam pembiayaan PBSI.

"Karena mewakili negara ya (biayanya) dari PBSI dong," kata Sekjen PP PBSI, Achmad Budiharto.


Kado untuk HUT Indonesia yang sedang Tidak Baik-baik Saja

Gelar juara dunia yang diraih Hendra/Ahsan di Basel tahun ini bukan cuma istimewa dari statistik. Hendra dan Ahsan meraih medali emas saat Indonesia dilanda krisis keberagaman hingga memunculkan aksi rasial.

Mereka, tanpa banyak kata, menunjukkan betapa perbedaan justru membuat Indonesia begitu disegani di dunia. The Daddies, yang memiliki perbedaan mencolok itu, mati-matian di tengah lapangan demi Merah Putih. Perlu diketahui, Kejuaraan dunia Bulutangkis tak menawarkan hadiah uang, cuma poin untuk ranking peserta.

Hendra, yang seorang keturunan Tionghoa dan kristiani sedangkan Ahsan muslim yang taat, tak canggung untuk berlatih bersama pagi dan sore--setiap hari, makan satu meja, bertukar keringat saat berpelukan untuk merayakan kemenangan.

Dan, mereka memiliki jawaban yang sama saat ditanya,'Untuk siapa gelar juara dunia itu?' dalam sesi wawancara usai menggenggam medali emas itu.

"Untuk kado ulang tahun Indonesia!"



Simak Video "Hendra/Ahsan Juara Dunia Bulutangkis, Wiranto: Tua-tua Keladi"
[Gambas:Video 20detik]
(fem/din)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detiksport.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com