detikSport
Follow detikSport Linkedin share
Minggu, 08 Sep 2019 15:43 WIB

Audisi Umum PB Djarum Dihentikan, Siapa yang Rugi?

Mercy Raya - detikSport
Foto: dok. PB Djarum Foto: dok. PB Djarum
Jakarta - Penghentian audisi umum bulutangkis yang menjadi agenda tahunan PB Djarum Kudus sejak 2006 dinilai akan merugikan atlet. Kok bisa?

Audisi umum bulutangkis PB Djarum dilangsungkan setiap tahun melalui beberapa seri dan puncaknya dihelat di Kudus, Jawa Tengah. Salah satu atlet top yang lahir dari ajang itu Kevin Sanjaya Sukamuljo.

Belakangan, ajang bertajuk Audisi Umum Beasiswa Bulutangkis Djarum itu dipersolakan oleh Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI). Mereka berpendapat audisi itu salah satu bentuk eksploitasi anak-anak untuk memasarkan produk rokok.

PB Djarum dan KPAi telah bertemu muka dan mendiskusikan tudingan itu. Tapi, tak etrcapai kata sepakat.

Program Director Bakti Olahraga Djarum Foundation, Yoppy Rosimin, memutuskan untuk menyetop audisi umum itu. Dia mengumumkan rencana itu di HotelAston, Purwokerto, Sabtu (7/9/2019).


Menurut Yoppy, penghentian untuk mereduksi polemik yang mencuat. PB Djarum dituding mengekploitasi anak lewat audisi bulutangkis demi promosi merek dagangnya. PB Djarum merupakan salah satu produsen ternama di Indonesia. Yoppy bersikeras dengan keputusan tersebut setelah mempertimbangkan semua hal.

"Ini sudah diputuskan. Jadi saya tidak mau diombang-ambing, iya-enggak, iya-enggak. Saya iya atau enggak. Keputusan sudah diumumkan, tidak ada audisi umum di kota-kota," kata Yoppy kepada detikSport, Minggu (8/9/2019).

Yoppy juga menjelaskan dampak kerugian yang diperoleh dengan keputusan tersebut. Atlet menjadi yang paling mengalami kerugian besar.

"Yang rugi itu atlet bukan saya. Maka itu mereka pada marah-marah. Secara tak langsung, walau nanti ada datang ke Kudus. Khusus yang tinggal di Jawa Tengah tidak masalah, Jawa Timur tak masalah, Jawa Barat juga, kemudian jika di Gorontalo, Kendari, itu kerugian bukan di saya. Saya mencoba menutup itu, karena harapan mereka seperti itu," dia menjelaskan.

"Ibaratnya, kami sudah keluar uang, tenaga, semua dicurahkan, mengkoordinir semua legenda, itu kan impacnya banyak. Kalau datang ke Purwakerto, hotel penuh, lalu kedatangan kru pelatih, kru panitia, itu kulinernya jadi lancar. Itu kan impact dari sebuah event. Indikatornya banyak kalau kejuaraan-kejuaraan sekarang banyak, itu imbas yang sudah jadi. Dan Indonesia Open juga sudah jadi. Penonton sudah antre tiket," Yoppy menambahkan.

"Sebenarnya ada solusi, banyak. Tapi muncul perusahaan baru (yang mau membuat audisi tersebut). Misalnya, Detik.com atau CT (Chairul Tanjung)," kata dia.


Sementara itu, Ketua KPAI, Susanto, bersikukuh mereka tidak menghentikan audisi bulutangkis itu. Dia berpendapat pihaknya justru mendukung pengembangan bakat anak-anak Indonesia, di antaranya bulutangkis.

"KPAI tidak memberhentikan audisi bulu tangkis. Justru KPAI mendorong semua pihak agar men-support anak-anak Indonesia bisa mengembangkan bakat dan minat termasuk di bidang bulutangkis. Prestasi anak Indonesia tentu akan berdampak positif bagi bangsa dan negara," kata Susanto.

"Dalam hal ini, Djarum Foundation bukan berhadapan dengan KPAI. Tapi, berhadapan dengan regulasi yang berlaku. Baik UU 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak maupun PP No 109 Tahun 2012. PP tersebut telah melarang bahwa perusahaan rokok dalam menyelenggarakan kegiatan dilarang menampilkan logo, merek, atau brand image produk tembakau," Susanto menjelaskan.

"Kami tegaskan bahwa jangan seolah-olah KPAI yang melarang. Tapi harus dipahami bahwa aturanlah yang melarang. Ada KPAI atau tidak, PP tersebut tetap mengikat," kata dia.




Simak Video "Suara Atlet Muda PB Djarum soal Penghentian Audisi"
[Gambas:Video 20detik]
(mcy/fem)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com