detikSport
Follow detikSport Linkedin share
Minggu, 12 Jan 2020 16:54 WIB

Nirgelar di Malaysia Masters, PBSI: Balas di Istora!

Mercy Raya - detikSport
Kevin Sanjaya/Marcus Fernaldi Gideon gagal juara di Malaysia Masters 2020 (dok. Humas PBSI)
Jakarta - Indonesia untuk kali pertama tak membawa gelar dari Malaysia Masters 2020. PP PBSI akan mengevaluasi dan berharap bisa membalasnya di Daihatsu Indonesia Masters.

Malaysia Masters berlangsung di Axiata Arena, Kuala Lumpur, Malaysia, 7-12 Januari 2020. Dari 15 wakil yang dikirim tak satu pun yang berhasil mencapai final. Padahal PBSI menargetkan minimal merebut satu gelar.

Empat wakil yang tersisa satu persatu takluk dengan lawannya masing-masing pada semifinal Sabtu (11/1/2020). Termasuk ganda putra Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto yang digadang-gadang bisa menciptakan All Indonesian Final dengan dengan Hendra Setiawan/Muhammad Ahsan

Fajar/Rian kalah dari pasangan Korea Selatan Kim Gi Jung/Lee Yong Dae dengan skor 21-14, 19-21, dan 15-21. Sedangkan, Hendra/Ahsan takluk dari wakil China Li Jun Hui/Liu Yu Chen usai bermain rubber games, 20-22, 21-19, dan 22-24.

Kekalahan mereka disusul dua sektor lain, yaitu ganda putri Greysia Polii/Apriyani Rahayu yang tak mampu mengadang ganda China Li Wen Mei/Zheng Yu. Mereka kalah 19-21, 21-18, dan 19-21.

Sedangkan, pasangan Hafiz Faizal/Gloria Emanuelle Widjaja belum mampu mengalahkan Zheng Si Wei/Huang Ya Qiong (1-China). Mereka kalah 13-21 dan 12-21.




"Ya, itu lah fakta yang harus diterima. Ini jadi bahan evaluasi buat para pelatih apalagi tahun ini adalah tahun krusial race to Olympic. Kesempatan yang tadinya juara kemudian tidak (juara) akan kehilangan poin," kata Sekretaris Jenderal PP PBSI, Achmad Budiharto, di Istora Senayan, Minggu (12/1/2020).

"Maka itu, pada turnamen berikutnya, Indonesia Masters, mereka harus lebih baik supaya bisa mengembalikan poin yang hilang," sambungnya.

Pria yang akrab disapa Budi itu mengomentari penampilan Fajar/Rian yang seharusnya bisa mencuri peluang juara.

"Fajar/Rian bukan tidak memanfaatkan (peluang). Tidak ada pemain yang tak ingin juara tapi kalau baca komentarnya, mereka kalah strategi di pengalamannya. Jadi mereka terbawa pola permainan Korea Selatan. Mereka kurang cepat mengantisipasi perubahan pola permainan. Itu kan masalah klasik pemain-pemain seperti itu," Budi menjelaskan.

"Ya (artinya) paling tidak mereka harus tampil lebih baik supaya tidak tekor," harap dia.



Simak Video "Anthony Juara, Indonesia 3 Gelar di Indonesia Masters"
[Gambas:Video 20detik]
(mcy/mrp)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detiksport.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com