detikSport
Follow detikSport Linkedin share
Senin, 17 Feb 2020 17:54 WIB

Kenapa Performa Jonatan Christie Tak Maksimal?

Mercy Raya - detikSport
Jonatan Christie dalam Kejuaraan Bulutangkis Beregu Asia 2020, di Manila, Filipina. Jonatan Christie dalam Kejuaraan Bulutangkis Beregu Asia 2020. (Foto: BadmintonIndonesia.org)
Jakarta -

Di balik keberhasilan tim putra Indonesia mempertahankan gelar juara Kejuaraan Bulutangkis Beregu Asia 2020, terselip performa tak maksimal Jonatan Christie. Ada apa?

Dalam laju tim putra Indonesia menjuarai ajang tersebut, ada empat partai yang melayang -- dengan hitungan partai 13-4 (menang-kalah) mulai dari fase grup sampai dengan final. Berikut rinciannya:

Laju tim putra INA di Kejuaraan Beregu Asia 2020
INA 4-1 KOR
INA 3-0 PHI
INA 3-2 IND
INA 3-1 MAS

Diawali dari fase grup, kekalahan Jonatan Christie atas Son Wan-ho menjadi satu-satunya partai pemain Indonesia tidak bisa merebut angka dari pemain Korea Selatan (4-1).

Di perempatfinal, Jonatan Christie bangkit dan menjadi penentu kemenangan 3-0 Indonesia atas Filipina. Jojo, sapaan akrabnya, turun di partai ketiga dan menang dua game langsung atas Lanz Ralf Zafra.

Namun, Jonatan Christie kembali tak kuasa menyumbang angka ketika Indonesia bersaing sengit dengan India (3-2) di semifinal. Turun di partai kedua, pebulutangkis peringkat tujuh dunia itu kalah dua game langung dari Lakshya Sen. Shesar Hiren Rhustavito menjadi pemain Indonesia lain yang gagal mengatasi pemain lawan dari India, yakni Subhankar Dey.

Sementara di partai final lawan Malaysia, Jonatan Christie yang turun di partai ketiga juga tunduk dari Cheam June Wei, walaupun kemenangan Fajar Alfian/Mohammad Ahsan di partai keempat akhirnya memastikan gelar juara buat Merah Putih (3-1).

Hasil itu tak ayal membuat Jonatan Christie dapat sorotan. Lantas apa kata Hendry Saputra selaku pelatih tunggal putra? Ia tak menepis ada rasa tertekan pada atletnya ketika diwajibkan menang, tapi Hendry juga tak mau kesalahan ditimpakan pada Jojo.

"Secara pribadi melihat Jonatan memang sedikit ada rasa beban dan akhirnya dia bermain tidak maksimal," kata Hendry dalam sambungan telepon ke detikSport, Senin (17/2/2020).

"Tapi saya tak mau menekankan itunya karena kita masih berjuang di kejuaraan ke depan. Dan saya tak mau ada penafsiran Jonatan berdosa atas hal ini. Saya rasa tak fair juga. Kalau tim lain yang kalah, gimana?"

"Ini, kan, yang penting timnya juara. Itu buat evaluasi kami. Yang penting timnya juara," ucapnya menegaskan.

Di sisi lain, Hendry juga menegaskan performa pemain memang wajib senantiasa dievaluasi. Ia pun berharap Kejuaraan Bulutangkis Beregu Asia 2020 ini bisa jadi pembelajaran penting buat Jonatan, khususnya dalam Piala Thomas di Denmark, 16-26 Mei 2020.

"Tapi tak apa untuk satu pembelajaran, semoga tidak di final Denmark nanti. Tentu bagus untuk pembelajaran dia ke depan," katanya.

"Meski terlepas menang kalah tetap harus ada yang dievaluasi. Kami ambil pikiran optimistis dan dia sudah menyadari ini. Walau kami tak menuntut karena bertanggung jawab, tapi dia memang terlalu hati-hati," ujar dia.

Simak Video "Menpora Nengok Jonatan Christie cs Berlatih Demi Olimpiade 2020"

[Gambas:Video 20detik]



Simak Video "Jonatan Christie dan Praveen/Melati Senasib di Japan Open 2019"
[Gambas:Video 20detik]
(mcy/krs)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detiksport.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com