detikSport
Follow detikSport Linkedin share
Selasa, 17 Mar 2020 14:40 WIB

Evaluasi Ganda Putra di All England, Ade/Wahyu Kurang Memuaskan

Mercy Raya - detikSport
Wahyu Nayaka/Ade Yusuf Evaluasi Ganda Putra di All England, Ade/Wahyu Paling Kurang Memuaskan (dok. PBSI)
Jakarta -

Pelatih ganda putra Herry Iman Pierngadi tak puas dengan hasil di All England 2020. Penampilan Ade Yusuf/Wahyu Nayaka Arya Pankaryanira kurang memuaskan.

Indonesia sukses mempertahankan satu gelar di BWF World Tour Super 1000 melalui ganda campuran, Praveen Jordan/Melati Daeva Oktavianti.

Sementara ganda putra yang digadang-gadang bisa meraih gelar gagal terwujud. Dari empat pasang, capaian terbaik ditorehkan Kevin Sanjaya Sukamuljo/Marcus Fernaldi Gideon sebagai runner up.

Juara bertahan Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan juga harus terhenti di babak perempat final. Sementara Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto dan Ade Yusuf/Wahyu Nayaka Arya Pankaryanira masing-masing terhenti di babak dua dan babak pertama.

Pelatih ganda putra, Herry Iman Pierngadi, mengatakan masing-masing pasang memiliki evaluasinya sendiri. Tapi yang paling menurun perfomanya menang Ade/Wahyu.

"Kadang bisa bagus, kadang bisa drop. Ini yang menjadi PR dan evaluasi buat mereka sendiri. Saya dan PBSI sudah memberikan kesempatan kepada mereka untuk ikut pertandingan dimana-mana. Cuma hasilnya masih kurang memuaskan," kata Herry dalam rilis yang diterima detikSport.



Selain Ade/Wahyu, Herry juga menyoroti penampilan Fajar/Rian yang menurun dari musim lalu.

"Kalau dari hasil tahun lalu memang berbeda. Tahun lalu mereka di semifinal, tahun ini mereka di babak dua. Terlepas dari itu memang pemain Inggris (Marcus Ellis/Chris Langridge) ini cukup baik. Mereka main di kendang sendiri, pertahanannya juga baik, nggak gampang ditembus," dia menjelaskan.

"Sedangkan kemarin sayang Fajar/Rian tampil di bawah performa terbaiknya. Saat itu, kaki Rian memang sedang bermasalah, jadi kecepatannya sedikit menurun. Ditambah juga kemarin menurut saya, Fajar banyak melakukan kesalahan yang tidak perlu," sambungnya.

"Jadi secara keseluruhan penampilan mereka bisa dibilang agak turun di All England tahun ini," tegasnya.



Sementara untuk Kevin/Marcus, pelatih yang dijuluki fans badminton Coach Naga Api ini mengatakan, pemainnya sudah bermain maksimal.

"Mereka sudah habis-habisan cuma ada unsur hokinya. Pada poin-poin akhirnya agak kurang sabar, khususnya Kevin yang terlalu buru-buru di depan," ujarnya.



Dia menjelaskan, kalau Ahsan/Hendra mungkin kasusnya agak berbeda. Mereka sejak babak pertama lawannya Jepang terus, ketat, dan rubber. Sampai akhirnya mereka ketemu Hiroyuki Endo/Yuta Watanabe. Memang kalau ketemu mereka kondisi fisik pemain harus benar-benar fresh.

"Karena seperti yang saya bilang, kalau mau ambil poin dari mereka harus membunuh. Membunuh artinya apa? Ya kita harus menyerang. Nggak bisa kita dapat poin secara gratis, menunggu kesalahan mereka. Jadi benar-benar harus membunuh, makanya tenaga dan fisik harus fresh dan nggak boleh kendor," tutupnya.



Simak Video "Sebelum Pensiun, Tontowi Ahmad Berstatus Magang di Pelatnas"
[Gambas:Video 20detik]
(mcy/aff)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detiksport.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com