detikSport
Follow detikSport Linkedin share
Selasa, 19 Mei 2020 19:30 WIB

Christian Hadinata Sayangkan Keputusan Tontowi Ahmad Pensiun

Mercy Raya - detikSport
Ganda Campuran Indonesia, Tontowi Ahmad/Winny Oktavina Kandow melaju ke babak 8 besar Indonesia Open 2019. Keduanya menumbangkan wakil Thailand 2 gim langsung. Keputusan Tontowi Ahmad pensiun disayangkan Christian Hadinata. (Foto: detikcom/Pradita Utama)
Jakarta -

Keputusan Tontowi Ahmad yang mundur dari pelatnas disayangkan. Praveen Jordan dkk dinilai kehilangan sosok panutan.

Tontowi menyatakan pensiun dari dunia bulutangkis yang membesarkan namanya pada Senin (18/5/2020). Melalui media sosial Instagram, dia menyampaikan salam perpisahan. Akan tetapi, salam perpisahan itu menjadi kehilangan besar buat tim ganda campuran.

Bagaimana tidak, sektor ganda campuran dinilai masih butuh mentor di pelatnas. Legenda hidup bulutangkis Indonesia, Christian Hadinata yang mengungkapkan itu.

"Ya, memang belum ada ganda campuran yang bisa sebaik Tontowi dan Liliyana Natsir. Meskipun kita punya ganda campuran lain yang menjadi andalan kita nanti, tapi tetap akan sulit lah mencapai prestasi pendahulunya," kata Christian kepada detikSport, dalam sambungan telepon Selasa (19/5/2020).

"Jadi ya mundurnya Tontowi memang saya rasa cukup disayangkan mengingat sebetulnya Tontowi masih memiliki kuantitas dan kualitas yang bagus sebagai sparing atau teman berlatih berkaliber," dia menegaskan.

Bukan tanpa sebab Christian menyatakan hal tersebut. Menurutnya, ganda campuran generasi di bawah Tontowi masih jauh untuk disandingkan para pendahulunya.

"Saya pikir pengalaman Tontowi dan gelar-gelar yang diraih penting buat adik-adiknya. Sebagai senior dia bisa menjadi satu mentor. Artinya bagaimana adik-adiknya bisa meraih prestasi paling tidak mendekati dia. Makanya, pengalaman Tontowi masih diperlukan. Sekarang di kelompok ganda campuran belum ada senior lagi yang bisa mendampingi rekan-rekannya," ujar eks pemain nasional berusia 70 tahun itu.

"Level Praveen dkk belum ada yang menonjol untuk menjadi mentor seperti Owi/Butet (Liliyana Natsir). Seorang Praveen, Melati (Daeva Oktavianti) dan pemain lainnya masih sangat fokus atau sibuk dengan bagaimana mereka bisa lebih bagus lagi," dia menjelaskan.

"Berbeda dengan Owi/Butet yang sudah meraih prestasi di mana-mana, artinya mereka punya waktu dan kesempatan membimbing adik-adiknya. Praveen/Melati memang sudah juara di All England tapi masih disibukkan oleh dirinya sendiri. Jadi itu yang menjadi satu kekosongan di ganda campuran," lanjutnya.

Di sisi lain, sebut Christian ada sisi positif dari kepergian Tontowi dari pelatnas. Praveen/Melati yang kini menjadi tumpuan jadi lebih terpacu untuk fokus dan konsentrasi. Sebab, mau tak mau mereka menjadi ganda campuran nomor satu Indonesia.

"Mau tak mau mengambil alih tanggung jawab dari Tontowi/Liliyana," ujar juara All England 1972 dan 1973 ini.

Imbasnya, sebut pria asal Jawa Tengah ini, tak hanya pada pemain ganda campuran tapi juga pelatihnya, Richard Mainaky. Dibutuhkan kecerdikan bagi pelatih dalam membuat program yang tepat bagi Praveen cs.

"Tentu ke depan Richard Mainaky sebagai pelatih kepala ganda campuran harus bekerja keras untuk mempertahankan prestasi ganda campuran yang bagus," katanya.



Simak Video "Keluarga, Alasan Utama Tontowi Ahmad Pensiun dari Bulutangkis"
[Gambas:Video 20detik]
(mcy/cas)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detiksport.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com