Siprus Istimewakan Baghdatis

Siprus Istimewakan Baghdatis

- Sport
Minggu, 29 Jan 2006 02:00 WIB
Siprus Istimewakan Baghdatis
Jakarta - Pahlawan bisa datang dari mana saja. Dari lapangan tenis, Marcos Baghdatis telah menjadi ikon baru sebuah negara kepulauan di sebelah timur kawasan Mediterania, Siprus. Sebelum Baghdatis menorehkan sensasi di Australia Terbuka tahun ini, tenis adalah olahraga tidak populer di Siprus, kalah jauh dari sepakbola, sekalipun di cabang itu Siprus juga hanya jadi anak bawang di Eropa. Di negara berpenduduk kurang dari satu juta orang itu jumlah klub tenis tidak lebih dari 12 buah, dan pemain yang terdaftar hanya sekitar 6.000 orang. Tenis di Siprus identik dengan olahraga kaum orang kaya.Tapi belakangan ini tenis menjadi olahraga bersama masyrakat negara tetangga Yunani itu. Di hampir setiap bar orang bicara tentang tenis dengan Baghdatis sebagai topik utamanya.Begitu Baghdatis menundukkan unggulan ketujuh Ivan Ljubicic di babak perempatfinal, setelah sebelumnya menaklukkan unggulan kedua Andy Roddick, Siprus bergeliat. Khususnya di kota asal Baghdatis, Limassol, ratusan orang turun ke jalan-jalan, membunyikan klakson kendaraan, membuat suara apa saja yang dimaksudkan untuk meriuhkan kota. Mereka menari-nari dan bernyanyi merayakan kesuksesan seorang pemuda 20 tahun, yang baru tampil enam kali di turnamen besar. Suasana itu seperti sebuah kota yang merayakan negaranya menjuarai Piala Dunia.Koran-koran setempat, yang menempatkan politik sebagai isu utama pemberitaan sehari-hari, tak henti-hentinya mengisahkan kepahlawanan Baghdatis. Intinya, petenis yang banyak menimba ilmu di Prancis itu tetap dipandang sebagai pemenang, apapun hasil duelnya melawan pemain terbaik dunia saat ini, Roger Federer, di babak final hari Minggu (29/1/2006) nanti.Hak istimewa bahkan sudah dicetuskan presiden parlemen Siprus Demtris Christofias. Apa usulnya? Baghdatis dirasa tidak perlu memenuhi tugasnya mengikuti wajib militer (wamil)."Satu dari sekian banyak hal, saya yakin pemerintah dan presiden republic ini akan memberlakukan pengecualian buat Marcos dari kewajibannya kepada angkatan bersenjata," ungkap Christofias.Di Siprus, kalau ada seorang warga negaranya yang dibebaskan dari wamil biasanya karena alasan medis atau psikologis. Baghdatis, seperti dimohonkan orangtuanya, diharapkan bisa meneruskan karirnya di dunia tenis tanpa terganggu oleh urusan tersebut."Kami memohon pihak militer untuk memberikan pengecualian buatnya... Paling tidak, ia tidak dulu melakukan kewajiban itu sampai berusia 35 tahun," kata ayah Baghdatis, Christos. Sejauh ini reaksi pihak militer belum terlalu positif buat permohonan tersebut.Sementara itu Baghdatis akan bertarung melawan Federer tanpa disaksikan secara langsung oleh Christos dan ibundanya, yang memilih menyaksikan anak kebanggaannya bertanding via televisi, meskipun sudah ditawari tiket dan akomodasi gratis oleh pemerintah setempat.Namun kakaknya yang bernama Petros telah berangkat ke Australia. Ia membawa banyak titipan dari teman dan relasi-relasinya termasuk sebuah salib emas dari Uskup Agung Limassol. Sang ibu juga berharap spirit 700 ribu warga Siprus akan menyertai perjuangan Baghdatis di final Grand Slam pertamanya itu.(Foto: Kalah menang dari Roger Federer, Marcos Baghdatis sudah jadi pahlawan Siprus. AFP/Christophe Archambault) (a2s/)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads