Bangun, Marcos

Bangun, Marcos

- Sport
Senin, 30 Jan 2006 09:32 WIB
Bangun, Marcos
Jakarta - Usai mengalahkan Ivan Ljubicic, Marcos Baghdatis minta dibangunkan dari mimpinya. Ia benar, mimpi itu sudah berakhir. Tapi ia masih bisa merajutnya lagi nanti-nanti.Baghdatis memang baru saja melakoni sebuah kisah yang oleh media massa disebut sebagai "dongeng" -- lebih mendekati khayalan ketimbang kenyataan --, meskipun sesungguhnya itu merupakan buah dari perjuangannya yang besar selama ini.Ia seorang diri meninggalkan tanah kelahirannya di Limassol, Siprus, dalam usia 14 tahun untuk mewujudkan mimpinya menjadi petenis terkenal. Di Paris, Prancis, ia menggembleng dirinya habis-habisan, mengisi sebagian besar waktunya untuk berlatih dan berlatih.Kini, enam tahun kemudian, setelah mengecap sukses di level yunior -- juara Australia Terbuka yunior 2002 dan finalis AS Terbuka yunior 2003 -- mimpi besar Baghdatis mulai menjadi kenyataan.Jika tahun lalu ia mengikuti Australia Terbuka (senior) dengan fasilitas wild card, tahun ini ia bisa langsung masuk karena peringkatnya sudah mencukupi: 54. Meskipun mampu menumbangkan unggulan ke-17 Radek Stepane di babak kedua, tapi publik belum merasa perlu memandangnya.Baru setelah menyingkirkan unggulan kedua Andy Roddick di babak keempat, namanya menghiasi Koran-koran seluruh dunia yang melaporkan turnamen tersebut. "Ini seperti mimpi," begitu Baghdatis mengomentari kemenangannya atas petenis terbaik AS itu.Berikutnya, unggulan ketujuh Ivan Ljubicic ia hadang. "Harus ada orang yang membangunkanku dari mimpi ini," masih ia tak percaya atas kemampuannya sendiri itu.Permintaan itu tampaknya bisa dilakukan David Nalbadian di semifinal. Tapi nyatanya tidak. Justru petenis Argentina unggulan keempat itu yang "pamit". Sekali lagi Baghdatis menampar-nampar pipinya: "Aku benar-benar harus bangun."Tiba-tiba mimpi itu sudah membawanya ke final. Lawannya adalah pemain nomor satu dunia yang selalu mengalahkan dirinya dalam tiga pertemuan mereka sebelumnya: Roger Federer. Dalam hati Baghdatis mulai merasa inilah saatnya untuk bangun."Mungkin aku memang sedikit takut padanya. Mungkin aku tidak benar-benar mempercayainya. Kejadian terjadi begitu cepat," aku pria brewokan itu sehabis menyerah dari Federer, meskipun di set pertama bermain sangat agresif dan memenanginya."Aku katakan pada pelatihku, jika menang maka aku akan berhenti main tenis sekarang juga. Tapi ia malah balik berkata, 'jika kamu menang, maka saya yang akan berhenti bekerja'," selorohnya."Well done, Marcos," puji Federer yang mengalahkannya dengan skor 5-7 7-5 6-0 6-2. "Kredit buat dia yang tidak membiarkanku memainkan permainanku. Tapi mungkin dia sedikit letih, mungkin kecewa karena tak memenangi set kedua yang bisa saja ia raih." Begitulah akhir dongeng Baghdatis di Rod Laver Arena, Melbourne Park. Ia dibangunkan dari mimpinya oleh seorang pemain yang fenomenal, yang malah menangis terisak-isak saat menerima tropi juara, saking terharunya."Ini mimpi dan pada akhirnya saya terbangun. Sungguh dua minggu yang fantastis di sini. Aku masuk final, tampil di sana, dan kalah. Ini betul-betul luar biasa," demikian sambutan Baghdatis sebagai runner up.Baiklah, Marcos, kini Anda sudah terjaga lagi, meskipun tetap saja kekalahan itu tidak semenyenangkan meraih kemenangan. "Malam ini aku ingin di hotel saja, mungkin main kartu dan sedikit rileks. Aku tak begitu mood untuk bersenang-senang. Satu-dua hari lalu aku pasti akan tersenyum lagi," cetusnya.Pekan ini Baghdatis dipastikan berada di jajaran 20 besar dalam daftar peringkat ATP. Selama dua minggu ke depan ia berencana berlibur ke kampung halamannya sebelum berkompetisi lagi -- dimulai dari Marseille pada 13 Februari mendatang.Saat kembali ke lapangan, Baghdatis bertekad mengambil inspirasi dari ucapan pelatihnya setelah pertandingan tersebut. "Umurku 20 tahun. Dia bilang masih banyak yang ada di depanku, dan itu belum berakhir.""Banyak pemain sepertiku yang sangat menginginkan (kesuksesan) ini dan memiliki keberanian untuk meraihnya, punya semangat besar dalam dirinya untuk melakukan apa yang kulakukan minggu ini." Kalau begitu bangun, Marcos, dan jalan lagi.(Sumber foto: AFP/Torsten Blackwood). (a2s/)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads