Bincang dengan Susy Susanti: Kali Ini Saya Urus Anak Sendiri

Mercy Raya - Sport
Rabu, 09 Des 2020 17:50 WIB
Kepala Bidang Pembinaan dan Prestasi PP PBSI, Susy Susanti, memiliki pesan khusus kepada pebulutangkis yang berlaga di All England 2019.
Susy Susanti belum dihubungi pengurus baru PP PBSI. (Foto: detikcom/Agung Pambudhy)

D: Lantas apakah ada yang Anda sesali?

SS: Enggak sih. Saya sih jalani saja. Saya tak pernah sesali apapun. Waktu saya main dapat ratusan gelar dibilang saya cuma beruntung, bodoh amat. Saya tugas jalani, terserah masyarakat yang dinilai. Monggo saja. Hahaha.

D: Ci Susy pernah bilang saat menjadi Binpres bertekad membenahi dan akan mengembalikan tunggal putri di posisinya. Apakah saat ini sudah sesuai harapan?

SS: Salah satu PR (pekerjaan rumah) memang tunggal putri dan itu tak bisa instan, karena memang dari bibitnya tidak sebanyak putra. Kedua, saya melihat bahwa bakat tanpa kemauan itu susah, begitupun kemauan tanpa bakat susah. Nah ini yang belum kita dapat.

Saya istilahnya sudah rewel di tunggal putri tapi memang prosesnya memang agak panjang. Kita melihat di beberapa atlet tidak sesuai.

Saya selalu mengatakan juara itu petarung lalu juara itu lahir karena bakat dan kemauan, nah hal-hal ini yang belum saya temukan dari karakter- karakter di pelatnas saat ini. Mungkin saya ada beberapa berharap tapi tidak sesuai.

Kepala Bidang Pembinaan dan Prestasi PP PBSI, Susy Susanti, memiliki pesan khusus kepada pebulutangkis yang berlaga di All England 2019.Susy Susanti di Pelatnas PBSI Cipayung, Jawa Timur. (Foto: Agung Pambudhy)

D: Siapakah itu Ci Susy?

SS: Ya, kita kan hanya beberapa orang yang menonjol. Saat ini mungkin Gregoria Mariska Tunjung, Putri Kusuma Wardani, tapi yang lainnya hanya biasa saja. Sedangkan ada yang punya kemauan bakatnya kurang, contohnya seperti Fitriani. Lalu bakatnya bagus seperti Gregoria, tapi kemauan dia masih kurang. Lalu disiplin, ya itu banyak sih yang harus dipenuhi untuk menjadi juara.

D: Berarti bisa dinilai tunggal putri kita baru berapa persen untuk dapat kembali ke posisinya?

SS: Sekarang ini kita baru bisa bicara juniornya saja. Di awal-awal Gregoria sempat 15 dunia, saya sempat menargetkan dia masuk 10 besar.
Sampai dia berubah pelatih ke Rionny Mainaky, adaptasi lagi, mungkin masih adaptasi. Jadi butuh waktu.
Jadi banyak hal yang menentukan, yang penting dari atlet dulu, komunikasi dan kerja sama. Team work dan kepercayaan satu sama lain itu penting. Tapi tentunya ada rambu-rambu take and give.

D: Apa yang bakal dirindukan di Pelatnas?

SS: Aduh yang kangen mereka kali ya hahaha. Saya selalu anggap mereka seperti keluarga, anak sendiri, seperti di tim kami di Binpres, keuangan, sekretariatan. Mungkin kalau pergi, kayak tim, dari A sampai Z semuanya disiapkan dan sering bawa makanan.