ADVERTISEMENT

Tantangan Indonesia Badminton Festival yang Hadir di Tengah Pandemi

Rifqi Ardita Widianto - Sport
Rabu, 01 Des 2021 11:17 WIB
Indonesia Badminton Festival 2021 di Nusa Dua, Bali.
Foto: Rifqi Ardita Widianto
Bali -

Di Bali kini masih berlangsung rangkaian turnamen bulutangkis pertama di Indonesia pada saat pandemi. Bukan cuma satu, melainkan tiga sekaligus -- bertajuk Indonesia Badminton Festival 2021. Seberapa rumit?

Indonesia menjadi tuan rumah tiga turnamen besar bulutangkis di akhir tahun 2021. Tiga kejuaraan itu adalah Indonesia Masters, Indonesia Open, dan BWF World Tour Finals 2021 yang bertempat di Nusa Dua, Bali.

Ini jadi gelaran bulutangkis pertama di Indonesia sejak pandemi, namun skalanya tak main-main. Digelar di tengah situasi pandemi memberikan tantangan lain untuk Ismaya Live, rekan PBSI yang mendapatkan kepercayaan untuk menggelar acara.

Buat Ismaya Live, menggelar acara olahraga adalah pengalaman pertama. Mereka memang punya pengalaman menggelar Electro Run, tapi skalanya jelas berbeda. Terlebih mereka punya persiapan yang tak panjang, hanya sekitar 2 bulan.

Head of Operations Ismaya Live David Ferdian mengaku pihaknya sempat stres. Persiapan yang mepet dan pengalaman yang minim dalam menggelar acara olahraga bikin mereka harus meraba-raba. Tapi tensi tinggi itu mereda seiring berjalan Indonesia Badminton Festival yang sudah memasuki pekan ketiga dan tinggal menyisakan BWF World Tour Finals.

"Kita scratch dari nol, saya tuh bener-bener cari referensi sana-sini. Gimana sih acara olahraga. Wah Challenging banget nih, harus bisa nih. Terus karena kita basic-nya entertain, akhirnya 'yuk, kita coba kita combine event olahraga ini jadi satu kemasan yang ada sport, ada entertainment-nya'," ujar David Ferdian dalam obrolan dengan detikSport.

Guna mempercepat proses persiapan, Ismaya Live menggali informasi lewat wawancara dengan PBSI termasuk ke para pemain. Pengalaman menjalani turnamen di sejumlah negara mulai dari Thailand, Olimpiade 2020 Tokyo, dan sejumlah turnamen Eropa menjadi masukan penting.

Dari sana, kedatangan para atlet bisa dipersiapkan penjemputannya, bagaimana membuat mereka steril dari kerumunan umum, lalu karantina, hingga masuk ke gelembung di The Westin Resort, Nusa Dua, Bali. Kebetulan mereka sudah punya konsep menggelar acara dengan protokol kesehatan yang ketat, sehingga tinggal memoles dan menerapkannya.

Tapi kekhawatiran-kekhawatiran tetap ada. Terutama dengan adanya prediksi gelombang ketiga COVID-19, yang kini tengah melanda Eropa dan sejumlah negara.

"Kebetulan kemarin itu Ismaya Live udah ngedraf masalah prokes. Jadi kita lumayan cepet (soal prokesnya). Karena kita kemarin waktu PSBB, PPKM, itu kita menggodok draf prokes. Itu (aturan pembatasan kegiatan) kan setiap bulan, setiap hari bisa berubah. Jadi kebetulan konsepnya udah ada. Pas banget, pas dapet kayak gini, itu bisa kepake. Jadi lumayan cepetnya di situ," sambung David.

"Karena kita menggelar ini di saat pandemi, kekhawatirannya yang pasti takut kalau ada satu yang positif. Itu ibaratnya kalau satu positif, dengan kita sistem kayak gini, kan bisa aja itu jadi penyebaran. Tapi memang kita menerapkan prokes yang lumayan ketat ya."

Prokes ketat itu antara lain PCR terjadwal, yang sejak batas kedatangan atlet pada 11 November lalu sudah berjalan enam kali. Lalu tes antigen di setiap pertandingan. Ada sejumlah tamu yang memang masuk dan keluar gelembung, yakni dari pihak sponsor, juga tak luput dari prokes ketat dan diberikan akses terpisah.

Penyelenggaraan turnamen dengan sistem bubble alias gelembung juga memberi tantangan tersendiri. Simak di halaman selanjutnya!

Simak Video: Final Indonesia Masters: RI Sisakan Kevin/Marcus

[Gambas:Video 20detik]




ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT