ADVERTISEMENT

Taufik Hidayat Mundur karena Merasa Jadi Pajangan, Ketum PBSI: Hal Biasa

Muhammad Robbani - Sport
Selasa, 26 Apr 2022 11:10 WIB
Taufik Hidayat
Ketum PBSI buka suara soal mundurnya Taufik Hidayat. (Foto: Rifqi Ardita Widianto/detikcom)
Jakarta -

Ketua Umum PP PBSI Agung Firman Sampurna merespons mundurnya Taufik Hidayat. Katanya, ketidakpuasan pengurus adalah hal biasa dalam suatu organisasi.

Taufik Hidayat diketahui mundur dari jabatannya sebagai staf ahli Pembinaan dan Prestasi (Binpres) sejak pertengahan Bulan April. Legenda tunggal putra Indonesia itu merasa cuma jadi pajangan.

Selama menjabat staf ahli Binpres, Taufik Hidayat merasa tak pernah dilibatkan dalam kegiatan-kegiatan PP PBSI. Ia merasa jadi pajangan semata. Ia pun tak puas dengan kondisi itu dan akhirnya memilih mengundurkan diri.

"Biasa itu dalam organisasi ada yang merasa kurang diperhatikan, tapi PBSI bukan satu-satunya organisasi yang pegang. Namanya organisasi tak mungkin memberikan perhatian full ke 1 orang atau memberikan porsi yang sama ke semua orang. Tetapi itu bukan kesengajaan," kata Agung di Pelatnas Cipayung, Jakarta, Senin (25/4/2022).

"Kami ini menggunakan manajemen krisis, yang harus menghadapi situasi dalam tekanan besar. Saat kami masuk, dilantik saja belum, itu bulutangkis sudah ada kegiatan-kegiatan international. Mulai dari Thailand Open dan All England. Soal aspirasi itu kan bagian tata kelola organisasi, yang itu sudah tentu bertahap.

Dijelaskan Agung, PP PBSI baru saja menggelar konsolidasi Rapat Kerja (Raker) yang diikuti seluruh provinsi di Indonesia. Raker juga diikuti dewan pengawas yang ikut memberikan masukan positif kepada PP PBSI.

Dalam kesempatan itu PP PBSI menerima masukkan-masukkan yang dilayangkan peserta. Ia kembali menegaskan bahwa pihaknya memang mungkin lalai tak menampung semua masukan.

Ada yang diprioritaskan, ia pun meminta menegaskan bahwa orang-orang yang direkrut masuk ke PBSI berarti adalah bentuk apresiasi terhadap potensi yang dimilikinya. Ketika sudah direkrut, proses kerja sama harus dijalankan bersama-sama.

"Ada kelemahan di satu sisi mungkin, tapi juga pekerjaan kami banyak dan sudah memenuhi target bahkan melampaui. Salah satunya emas olimpiade yang biasanya diraih di akhir kepengurusan, All England, dan juga Thomas Cup yang sudah puasa 19 tahun," tutur Agung.

"Itu saya pikir prestasi besar, belum lagi 19 prestasi internasional lain di 2021. Dan 5 prestasi internasional 2022. Saya pikir apa yang disampaikan pengurus itu baik dan dibutuhkan. Tinggal bagaimana mekanisme tindak lanjut dan evaluasi. Tata kelola bukan sesuatu yang sederhana, dengan kompleksitas seperti itu mungkin ada yang merasa kurang didengar. Sehingga itu menandakan organisasi hidup," katanya lagi.

(rin/rin)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT